Penggunaan agens hayati seperti Trichoderma dan Gliocladium sangat bermanfaat dan sangat disarankan dalam budidaya kelapa khususnya kelapa genjah, meskipun bukan merupakan "kewajiban" mutlak jika lahan dalam kondisi sangat sehat.
Namun, dalam praktik perkebunan modern dan berkelanjutan, keduanya berperan vital untuk menghadapi kendala utama pohon kelapa. Berikut adalah rincian fungsinya:
1. Pengendalian Penyakit Utama (Fungisida Hayati)
Penyakit yang paling ditakuti pada kelapa adalah busuk akar dan busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur patogen.
Trichoderma sp.: Sangat efektif untuk melawan jamur Phytophthora palmivora (penyebab busuk buah dan busuk pucuk) serta jamur tular tanah lainnya.
Gliocladium sp.: Dikenal sangat agresif dalam melumpuhkan jamur Ganoderma boninense, yang sering menyebabkan busuk batang pada tanaman palma (kelapa dan sawit).
2. Dekomposer Bahan Organik
Kelapa menghasilkan banyak limbah organik (serasah daun, tapas, dan janjang kosong).
Trichoderma bertindak sebagai dekomposer cepat. Jika Anda mengaplikasikan pupuk kandang atau kompos di sekitar piringan pohon, penambahan Trichoderma akan mempercepat penguraian sehingga nutrisi lebih cepat tersedia bagi akar kelapa.
3. Stimulator Pertumbuhan Akar
Kedua jamur baik ini bersifat simbiosis dengan akar. Mereka melepaskan enzim dan hormon pertumbuhan yang membantu sistem perakaran kelapa menjadi lebih luas dan kuat, sehingga pohon lebih tahan terhadap kekeringan (sangat penting untuk menjaga produksi nira atau buah saat kemarau).

Cara Aplikasi yang Efektif:
| Metode | Penjelasan |
| Pembibitan | Campurkan Trichoderma/Gliocladium ke dalam media polibag sejak dini untuk membentengi bibit dari serangan jamur sejak awal. |
| Lubang Tanam | Taburkan sekitar 25–50 gram agens hayati (yang sudah dikembangbiakkan dalam media jagung/beras) ke lubang tanam sebelum bibit dimasukkan. |
| Tanaman Menghasilkan | Taburkan pada piringan pohon bersamaan dengan pemberian pupuk organik (kompos/paitan) setiap 6 bulan sekali. |
Tips Agar Aplikasi Efektif
Kelembapan Tanah: Trichoderma adalah makhluk hidup. Aplikasikan pada sore hari atau saat kondisi tanah lembap agar spora tidak mati terkena terik matahari langsung.
Hindari Fungisida Kimia: Jangan mencampur atau mengaplikasikan fungisida kimia bersamaan dengan Trichoderma. Beri jeda minimal 2 minggu jika tanaman baru saja terpapar fungisida kimia.
Gunakan Pembawa (Carrier): Hasil akan jauh lebih baik jika Trichoderma dicampur terlebih dahulu dengan pupuk kandang atau kompos sebagai "rumah" dan sumber energi awal bagi jamur tersebut.
Pencegahan Spesifik Kelapa Genjah
Kelapa genjah sering ditanam di area pekarangan atau lahan yang intensif. Jika Anda mendeteksi gejala serangan jamur pada pucuk atau akar (seperti daun yang layu sebelum waktunya), segera lakukan pengocoran larutan Trichoderma (10 gram per liter air) langsung ke pangkal batang atau titik tumbuh sebagai tindakan preventif biologis.
Mengingat kelapa genjah memiliki masa produktif yang panjang, penggunaan Trichoderma secara rutin membantu menjaga kesehatan tanah (bio-remediasi) sehingga produksi buah tetap stabil dalam jangka panjang.
1. Dosis Volume per Pokok
Fase Pembibitan (Polibag): Dibutuhkan sekitar 0,25 – 0,5 liter larutan per polibag. Cukup untuk membasahi area perakaran di dalam polibag.
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM / Usia 1–3 Tahun): Dibutuhkan 2 – 5 liter larutan per pokok. Siramkan secara merata di area piringan (sekitar 50 cm dari pangkal batang).
Tanaman Menghasilkan (TM / Usia 4 Tahun ke atas): Dibutuhkan 5 – 10 liter larutan per pokok. Fokuskan penyiraman pada area perakaran aktif (di bawah proyeksi tajuk daun).
2. Cara Pembuatan Larutan
Untuk mendapatkan hasil maksimal dari kandungan mikroba di dalamnya, ikuti langkah berikut:
Pelarutan: Larutkan sekitar 20–50 gram Trichosida ke dalam 10 liter air (sesuaikan dengan dosis pada kemasan produk yang Anda pegang).
Aktivasi: Diamkan larutan selama 15–30 menit sebelum diaplikasikan agar spora jamur dan bakteri "bangun" dan siap bekerja.
Penyaringan: Jika menggunakan alat semprot (sprayer), saring larutan terlebih dahulu agar endapan media pembawa tidak menyumbat nosel. Namun, untuk aplikasi ke tanah, metode kocor (penyiraman) lebih disarankan.
3. Tips Aplikasi di Lapangan
Waktu Aplikasi: Sebaiknya dilakukan pada sore hari (setelah jam 15.00) atau pagi hari sebelum matahari terik. Hal ini untuk melindungi mikroba dari paparan sinar UV yang berlebihan.
Kondisi Tanah: Pastikan tanah dalam kondisi lembap. Jika tanah sangat kering, siram dengan air biasa terlebih dahulu agar larutan Trichosida dapat meresap ke zona akar dan tidak menguap.
Interval: Untuk perlindungan rutin, ulangi aplikasi setiap 3–4 bulan sekali, terutama saat memasuki musim hujan untuk mencegah serangan jamur tular tanah.

