Senin, 09 Februari 2026

FENOMENA HAMA RESISTEN (BAGIAN 2)


    Sambungan Fenomena Hama Resisten bagian 1...


Mencari bahan aktif yang "aman dari resistensi" sebenarnya cukup menantang karena serangga selalu punya cara untuk beradaptasi. Namun, ada beberapa bahan aktif yang saat ini masih dianggap sangat efektif (karena mekanismenya unik) atau sulit memicu resistensi (karena cara kerjanya bersifat fisik/multi-target).

Berikut adalah daftar bahan aktif yang relatif masih tangguh dan belum banyak dilaporkan mengalami resistensi massal:


1. Golongan Spinosyn (Berasal dari Bakteri Tanah)

Ini adalah salah satu "senjata pamungkas" saat ini, terutama untuk ulat dan kutu-kutuan.

  • Bahan Aktif: Spinetoram contoh Endure (lebih kuat dari Spinosad).

  • Keunggulan: Memiliki cara kerja unik pada sistem saraf yang berbeda dari golongan lama. Sangat efektif untuk Ulat Grayak (Spodoptera) dan Thrips.

  • Status: Masih menjadi standar emas untuk pengendalian ulat yang sudah kebal terhadap racun murah.




2. Golongan Pyrrole

Sering digunakan sebagai pendamping atau pengganti ketika ulat sudah kebal terhadap golongan Diamida atau Piretroid.

  • Bahan Aktif: Klorfenapir seperti Sidalaku 212 EC atau kombo dengan sipermethrin seperti Permifos 500/50 EC .

  • Keunggulan: Bekerja dengan menghentikan produksi energi di sel serangga (uncoupler). Karena targetnya adalah energi sel, serangga lebih sulit membangun pertahanan kimiawi.

  • Target: Ulat, Thrips, dan Tungau (Mites).



3. Golongan Pengatur Tumbuh Serangga (IGR - Insect Growth Regulator)

Bahan ini tidak langsung membunuh serangga dewasa, tapi menggagalkan proses ganti kulit atau penetasan telur.

  • Bahan Aktif: Lufenuron, Siflumetofen, Buprofezin seperti Buprosida 100 EC.

  • Keunggulan: Karena tidak menyerang sistem saraf secara langsung, risiko resistensi mendadak lebih kecil. Sangat efektif memutus siklus hidup hama.

  • Target: Wereng, kutu kebul, dan ulat.



4. Golongan Avermectin Modern

Meskipun Abamektin sudah lama, turunannya yang lebih modern masih sangat efektif.

  • Bahan Aktif: Emamektin Benzoat seperti Emazo 75 EC.

  • Keunggulan: Dosis yang dibutuhkan sangat kecil namun daya bunuhnya sangat kuat terhadap ulat penggerek batang dan ulat daun.

  • Status: Masih menjadi andalan petani bawang merah dan padi di banyak daerah.

5. Insektisida Mikrobiologi (Agens Hayati)

Ini adalah kelompok yang paling sulit bagi serangga untuk membentuk resistensi karena serangga harus berhadapan dengan organisme hidup (patogen).

  • Bahan Aktif: Bacillus thuringiensis (Bt), Beauveria bassiana, Metarhizium.

  • Keunggulan: Aman bagi manusia dan lingkungan, serta sangat efektif untuk manajemen resistensi jangka panjang.


Tabel Strategi Pemilihan Bahan Aktif

Target HamaBahan Aktif RekomendasiKarakteristik
Ulat Grayak/EksisSpinetoram atau KlorfenapirEfektifitas tinggi, relatif baru.
Kutu Kebul/ThripsAbamektin + LufenuronMenyerang saraf sekaligus siklus hidup.
Wereng/Hama HisapPimetrozin atau FlonikamidMenghentikan aktivitas makan secara permanen.

Tips Agar Bahan Aktif Di Atas Tidak Cepat Resisten:

  • Prinsip "Window Strategy": Gunakan bahan aktif yang sama maksimal selama 30 hari (satu siklus hidup hama), lalu wajib ganti ke golongan lain pada bulan berikutnya.

  • Jangan Campur (Tank Mix) yang Sejenis: Jangan mencampur dua bahan aktif yang cara kerjanya sama (misalnya mencampur dua jenis Piretroid), karena itu justru mempercepat resistensi.

  • Gunakan Perekat (Spreader): Terutama pada musim hujan agar bahan aktif tidak luntur sebelum sempat bekerja.

  • Untuk mendapatkan efek pengendalian yang maksimal dan mencegah resistensi (patahnya keampuhan obat), strategi terbaik adalah mencampurkan Nitenpiram (yang bekerja cepat/knockdown) dengan bahan aktif dari golongan lain yang cara kerjanya berbeda.

  • Berikut adalah beberapa kombinasi terbaik Nitenpiram dengan bahan aktif yang saat ini masih relatif tangguh dan belum banyak dilaporkan resisten:

    1. Nitenpiram + Pimetrozin (Paling Direkomendasikan untuk Wereng/Kutu)

    Ini adalah kombinasi "maut" untuk hama penghisap.

    • Cara Kerja: Nitenpiram membunuh seketika secara kontak, sedangkan Pimetrozin bekerja dengan cara membuat mulut serangga kaku (paralisis) sehingga mereka tidak bisa makan dan mati kelaparan.

    • Keunggulan: Pimetrozin masih sangat efektif dan memiliki efek sistemik yang kuat. Kombinasi ini memberikan perlindungan jangka panjang. Jika petani mencampurkan antara Teballo dan Plenum maka hasilnya akan sangat luarbiasa.

    2. Nitenpiram + Buprofezin (Kombinasi Anti-Resistensi & Anti-Telur)

    Sangat bagus untuk memutus siklus hidup hama.

    • Cara Kerja: Nitenpiram membunuh hama dewasa, sedangkan Buprofezin adalah IGR (Insect Growth Regulator) yang menghambat pembentukan kulit (molting) pada nimfa/anak serangga dan membuat telur mandul.

    • Keunggulan: Buprofezin adalah salah satu bahan aktif yang paling lambat memicu resistensi. Sangat efektif untuk wereng, kutu dompolan, dan kutu kebul. Kombinasi Teballo dan Buprosida hasil istimewa.

    3. Nitenpiram + Abamektin (Kombinasi Spektrum Luas)

    Cocok untuk tanaman hortikultura (cabai, tomat, bawang) yang terkena serangan kutu sekaligus ulat kecil.

    • Cara Kerja: Nitenpiram menyerang saraf kutu penghisap, sedangkans. Abamektin masuk ke dalam jaringan daun (translaminar) untuk mematikan Thrips, Tungau (Mites), dan penggorok daun.

    • Keunggulan: Kombinasi ini sangat kuat untuk membersihkan daun yang mulai keriting akibat serangan hama penghisap.

    4. Nitenpiram + Klorfenapir (Kombinasi "Pukul Rata")

    Digunakan jika serangan hama sudah sangat kompleks (ada kutu kebul, thrips, dan ulat grayak sekaligus).

    • Cara Kerja: Klorfenapir bekerja pada energi sel (mitokondria) yang sangat sulit dilawan oleh serangga.

    • Keunggulan: Klorfenapir saat ini masih tergolong bahan aktif "premium" yang sangat ampuh mengatasi hama yang sudah kebal terhadap insektisida golongan lama.


    Tips Penting Pencampuran (Tank Mix):

    1. Jangan Campur dengan sesama Neonikotinoid: Hindari mencampur Nitenpiram dengan Imidakloprid, Tiametoksam, atau Asetamiprid. Ini sia-sia karena target sarafnya sama, justru akan mempercepat resistensi.

    2. Cek Formulasi:

      • Nitenpiram biasanya berbentuk tepung (SP) atau cair (SL).

      • Jika dicampur dengan bahan berbentuk pekatan minyak (EC), larutkan dulu yang berbentuk tepung ke dalam air, baru kemudian masukkan yang cairan minyak.

    3. Rotasi adalah Kunci: Meskipun dicampur, pada penyemprotan berikutnya (7-10 hari kemudian), WAJIB ganti ke golongan lain. Contoh: Setelah pakai campuran Nitenpiram+Pimetrozin, berikutnya gunakan Spinetoram atau Klorfenapir saja.

    Rekomendasi untuk Anda: 

  • Jika targetnya adalah Wereng di Padi, gunakan campuran Nitenpiram + Pimetrozin atau Nitenpiram + Buprofezin (Teballo + Buprosida)

  • Jika targetnya adalah Kutu Kebul/Thrips di Cabai, gunakan Nitenpiram + Abamektin atau Nitenpiram + Klorfenapir (Teballo + Sidalaku). Mengingat efek campuran klorfenapir dikenal sangat kuat maka direkomendasikan agar di aplikasikan sebelum jam 8 pagi atau setelah jam 4 sore untuk menghindari cuaca panas dan potensi efek daun yang terbakar.



FENOMENA HAMA RESISTEN (BAGIAN 1)

 


Bahaya Fenomena Resistensi Hama: Ketika Wereng, Walang Sangit, dan Penggerek Menjadi "Kebal"

Dalam dunia pertanian, fenomena resistensi hama adalah kondisi di mana populasi hama yang sebelumnya bisa dikendalikan oleh dosis tertentu suatu insektisida, kini tidak lagi mati dan justru terus berkembang biak. Ibarat antibiotik yang tidak lagi mempan melawan bakteri, insektisida yang digunakan terus-menerus dengan cara yang salah hanya akan menciptakan "super-hama".

Penggunaan secara berulang dengan bahan aktif yang sama hanya akan meningkatkan kekebalan hama yang meminta petani untuk selalu meningkatkan dosis dan takaran setiap kali musim penyemprotan.

Berikut adalah analisis fenomena resistensi pada tiga hama utama padi:


1. Wereng Batang Coklat (WBC): Si Ratu Resistensi

Wereng adalah salah satu hama yang paling cepat beradaptasi.

  • Penyebab: Penggunaan bahan aktif seperti Imidakloprid atau Sipermetrin (golongan Piretroid) secara terus-menerus.

  • Efek Resurjensi: Insektisida tertentu justru membunuh predator alami (seperti laba-laba) tetapi tidak mematikan semua wereng. Wereng yang tersisa mendapatkan asupan nutrisi lebih banyak dari tanaman yang subur dan meledak jumlahnya secara eksponensial.

  • Solusi: Gunakan bahan aktif Buprofezin contohnya : merk dagang Buprosida 100 EC untuk memutus siklus hidup (sterilisasi telur)  

2. Walang Sangit: Kebal karena "Bau" yang Sama

Walang sangit sering menyerang pada fase generatif (padi berbunga/susu).

  • Penyebab: Petani cenderung menggunakan insektisida berbau menyengat (seperti golongan Organofosfat) berkali-kali. Karena siklus hidupnya yang mobile (terbang), walang sangit yang terpapar dosis rendah (sub-letal) akan menurunkan gen kekebalan pada keturunannya. Beberapa insektisida yang di kenal dengan baunya yang tajam misalkan: bahan aktif Dimetoat, atau fenthion

  • Gejala Resistensi: Walang sangit tetap hinggap dan menghisap bulir padi meskipun sawah baru saja disemprot dengan dosis tinggi.

  • Solusi: Rotasi bahan aktif. Jika sebelumnya menggunakan kontak, beralihlah ke sistemik yang mampu bertahan di dalam bulir. Penggunaan BPMC seperti Sidabas 500 EC dan Dimehipo seperti Sidatan XR 525 SL dapat digunakan bergantian untuk untuk mencegah resistensi ini.

3. Penggerek Batang: Musuh dalam Selimut

Resistensi pada penggerek batang (Scirpophaga incertulas) sering terjadi karena kesalahan target.

  • Penyebab: Penggunaan insektisida kontak secara berlebihan untuk membunuh ulat yang sudah berada di dalam batang. Karena ulat tidak terkena racun secara langsung, populasi yang selamat akan beradaptasi.

  • Bahaya Salah Obat: Penggunaan bahan aktif keras seperti Triazofos pada padi sering memicu resistensi dan resurjensi pada hama penyerta (wereng).

  • Solusi: Gunakan teknologi Ovisida (Pembeku Telur) seperti Fipronil seperti Fipros 55 SC yang bekerja secara sistemik untuk memutus rantai serangan sebelum larva masuk ke dalam batang.


Strategi Mencegah Resistensi (Manajemen Hama Terpadu)

Agar hama tidak menjadi kebal, petani wajib menerapkan strategi Rolling Bahan Aktif:

  1. Gunakan Konsep MoA (Mode of Action): Jangan mencampur atau mengganti obat yang memiliki cara kerja yang sama. Contoh: Jika sudah memakai Dimehipo seperti SIdatan XR 525 SL, jangan ganti dengan Kartap Hidroklorida (karena keduanya bekerja pada reseptor yang mirip).

  2. Jangan Over-Dosis: Menaikkan dosis di atas label hanya akan mempercepat seleksi alami hama yang kebal.

  3. Manfaatkan Ovisida (Pembeku Telur): Matikan hama di fase telur. Telur tidak bergerak dan tidak bisa menghindar, sehingga penggunaan ovisida seperti Buprofezin seperti merk Buprosida dan Fipronil seperti Fipros 55 SCsangat efektif memutus generasi yang berpotensi resisten.

  4. Kombinasi Kontak & Sistemik:

    • Kontak: Untuk mematikan hama dewasa yang terlihat (ngengat/walang sangit).

    • Sistemik: Untuk mematikan larva di dalam jaringan tanaman dan membekukan telur.


Daftar Pengelompokan Insektisida & Target Sasaran

Golongan (MoA)Bahan AktifContoh Merek DagangTarget UtamaEfek Terhadap Telur
Grup 28 (Diamida)KlorantraniliprolPrevathon, VirtakoPenggerek Batang, UlatSangat Kuat (Ovisida)
Grup 2 (Fiprole)FipronilFipros 55 SCPenggerek, Wereng, Walang SangitKuat (Ovi-Larvisida)
Grup 16 (IGR)BuprofezinBuprosida 100 ECWereng, Kutu-kutuanKuat (Hanya Wereng)
Grup 14 (Nereistoksin)Dimehipo / BisultapSidatan XR 525 SLPenggerek BatangSedang (Larvisida)
Grup 4 (Neonikotinoid)Imidakloprid / MospilanTOpdor 10 WP, Vendor 212 SLWereng, Walang SangitRendah
Grup 9 (Pymetrozine)Pimetrozin PlenumWereng (Spesialis)Rendah (Hanya Steril)

Panduan Mixing & Rolling (Anti-Resistensi)

1. Aturan "Jangan Campur Saudara"

Jangan mencampur dua bahan aktif dari grup MoA yang sama dalam satu tangki.

  • SALAH: Mencampur Dimehipo dengan Kartap (Keduanya Grup 14).

  • BENAR: Mencampur Fipronil (Grup 2) dengan Klorantraniliprol (Grup 28).

2. Strategi Rolling (Rotasi) Berdasarkan Fase

Lakukan pergantian golongan setiap 2 kali penyemprotan untuk mencegah hama beradaptasi.

  • Fase Vegetatif (15-30 HST): Fokus pada pencegahan Sundep.

    • Rekomendasi: Gunakan Fipronil merk Fipros 55 SC atau Dimehipo merk Sidatan XR 525 SL.

  • Puncak Penerbangan Ngengat: Saat terlihat banyak kupu-kupu putih.

    • Rekomendasi: Gunakan Klorantraniliprol (Pembeku Telur) untuk perlindungan jangka panjang.

  • Fase Generatif (Keluar Malai): Fokus pada Walang Sangit & Wereng.

    • Rekomendasi: Gunakan Buprofezin merk Buprosida 100 EC (untuk telur wereng) dicampur dengan bahan kontak untuk Walang Sangit.


Rekomendasi "Mix" Aman & Legal (Khusus Padi)

Jika Anda ingin menggabungkan beberapa bahan aktif di atas dalam satu tangki, berikut adalah kombinasi yang paling disarankan:

  • Kombinasi A (Total Control): Prevathon (Klorantraniliprol) + Fipros 55 SC (Fipronil).

    • Manfaat: Perlindungan telur paling maksimal dan efek tanaman hijau (fitotonik).

  • Kombinasi B (Ulat + Wereng): Prevathon (Klorantraniliprol) + Buprosida (Buprofezin).

    • Manfaat: Mematikan telur penggerek batang sekaligus mematikan telur/nimfa wereng coklat.

  • Kombinasi C (Ekonomis): Sidatan 525 SL (Dimehipo) + Fipros 55 SC (Fipronil).

    • Manfaat: Cukup kuat untuk mematikan larva yang sudah terlanjur masuk ke batang dan mengendalikan walang sangit.

Berikut adalah beberapa golongan bahan aktif insektisida yang telah terbukti memiliki tingkat resistensi tinggi di berbagai wilayah:


1. Golongan Piroid (Pyrethroids)

Ini adalah golongan yang paling banyak mengalami kasus resistensi karena penggunaannya yang sangat masif, baik di lahan pertanian maupun untuk pengendalian nyamuk (seperti DBD).

  • Bahan Aktif: Deltametrin, Sipermetrin, Lamda-sialotrin, Permetrin.

  • Target: Hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda), kutu kebul, dan nyamuk Aedes aegypti.

  • Status: Banyak dilaporkan sudah tidak mempan lagi (terutama pada dosis standar) di berbagai sentra sayuran.

  • Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Yang selama ini palng umum dipakai petani sebagai pencampur adalah Sidamethrin 50 EC atau Yasithrin 30 EC yang di kenal ampuh dengan harga terjangkau.

2. Golongan Organofosfat

Golongan "pemain lama" ini telah digunakan selama puluhan tahun, yang memberikan waktu cukup bagi serangga untuk beradaptasi.

  • Bahan Aktif: Klorpirifos, Profenofos, Metidation.

  • Target: Kutu daun, ulat, dan penggerek batang.

  • Status: Di beberapa daerah, Profenofos mulai kehilangan taji terhadap ulat grayak karena penggunaan yang berlebihan tanpa rotasi.

  • Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Yang paling umum digunakan adalah kombinasi Klorpirifos dengan Sipermethrin seperti merk Permifos 500/50 EC kombinasi klorpirifos 500 g/l dengan Sipermethrin 50 g/l.

3. Golongan Neonikotinoid

Sering digunakan sebagai perlakuan benih atau semprotan sistemik. Karena sifatnya yang sistemik dan bertahan lama di jaringan tanaman, serangga penghisap cepat beradaptasi.

  • Bahan Aktif: Imidakloprid, Tiametoksam.

  • Target: Wereng cokelat (Nilaparvata lugens), kutu kebul.

  • Status: Wereng cokelat di beberapa wilayah Asia Tenggara telah menunjukkan resistensi tingkat tinggi terhadap Imidakloprid.

  • Berbeda dengan kedua saudaranya kendati Nitenpiram juga termasuk dalam golongan Neonikotinoid (Group 4A), Nitenpiram adalah bahan aktif yang menarik karena posisinya yang unik di pasar. Poin krusial yang membedakan Nitenpiram dalam hal efikasi dan risiko resistensinya.


    1. Keunggulan: Efek "Knockdown" yang Instan

    Berbeda dengan saudaranya (Imidakloprid) yang bekerja agak lambat secara sistemik, Nitenpiram dikenal karena efek kontak yang sangat cepat.

    • Kecepatan: Sering disebut sebagai "racun kilat". Serangga yang terkena biasanya akan langsung jatuh dan mati dalam hitungan menit hingga jam.

    • Kelarutan: Sangat mudah larut dalam air dan cepat diserap jaringan tanaman, sehingga sangat efektif untuk mematikan hama yang sedang menghisap cairan tanaman.

    2. Status Resistensi Nitenpiram

    Sejauh ini, Nitenpiram masih relatif efektif dibandingkan Imidakloprid, namun mulai menunjukkan tanda-tanda peringatan:

    • Resistensi Silang (Cross-Resistance): Ini adalah ancaman terbesar. Karena Nitenpiram berada dalam golongan yang sama dengan Imidakloprid (4A), ada risiko besar jika wereng sudah kebal terhadap Imidakloprid, mereka juga akan lebih cepat kebal terhadap Nitenpiram.

    • Penggunaan Spesifik: Di Indonesia, Nitenpiram masih menjadi "senjata andalan" petani padi untuk mengendalikan Wereng Batang Coklat (WBC) saat terjadi ledakan populasi, karena kemampuannya menurunkan populasi secara drastis dalam waktu singkat.



  • Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Di pasaran telah dikenal merk insektisida berbahan aktif nitenpiram yang telah ditingkatkan kemampuannya untuk menghindari resistensi ini dengan merk dagang "Teballo Red"




4. Golongan Diamida (Anthranilic Diamides)

Meskipun tergolong lebih modern, golongan ini mengalami "ledakan" resistensi yang sangat cepat karena efikasinya yang sangat tinggi di awal kemunculannya membuat petani menggunakannya terus-menerus.

  • Bahan Aktif: Klorantraniliprol (Prevathon), Flubendiamid.

  • Target: Ulat grayak (Spodoptera), ulat penggerek polong.

  • Status: Kasus resistensi Spodoptera frugiperda terhadap Klorantraniliprol sudah terdeteksi di banyak negara, termasuk Indonesia.

  • Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain.


Perbandingan Karakteristik Resistensi

GolonganKecepatan ResistensiPenyebab Utama
PiretroidSangat CepatPenggunaan rutin & residu lama
NeonikotinoidSedang - CepatPenggunaan sistemik terus-menerus
DiamidaSangat CepatTidak ada rotasi bahan aktif
OrganofosfatLambat - SedangPenggunaan jangka panjang (puluhan tahun)

Strategi Mengatasi Resistensi

Agar insektisida tetap efektif, sangat disarankan untuk menerapkan Manajemen Resistensi Insektisida (IRM):

  1. Rotasi Bahan Aktif: Jangan gunakan bahan aktif dari golongan (MOA - Mode of Action) yang sama secara berturut-turut.

  2. Gunakan Dosis Sesuai Label: Dosis rendah (sub-lethal) justru mempercepat seleksi individu yang tahan.

  3. Penerapan PHT: Kombinasikan dengan pengendalian hayati (musuh alami) atau perangkap fisik.

Catatan Penting: Jika suatu bahan aktif sudah resisten di satu lahan, bukan berarti bahan tersebut tidak berguna sama sekali di tempat lain. Resistensi seringkali bersifat lokal atau regional tergantung sejarah penyemprotan di wilayah tersebut.

Kesimpulan

Fenomena resistensi bukan salah hamanya, melainkan pola penggunaan insektisida yang monoton. Dengan memahami cara kerja bahan aktif seperti Buprofezin = Buprosida (untuk wereng) dan Fipronil = Fipros (untuk penggerek), petani dapat mengendalikan hama secara bijak, hemat biaya, dan menjaga ekosistem sawah tetap seimbang.

Penggunaan bahan aktif dengan pola kerja yang berbeda seperti menghambat nafsu makan/ memandulkan, menghancurkan embrio atau memanipulasi lapisan kulit hama juga dapat di gunakan sebagai altrnatif pencegah resistensi akibat kebanyakan produk sistem kontak.


Bersambung ke bagian 2 .....

FENOMENA HAMA RESISTEN (BAGIAN 2)

     Sambungan Fenomena Hama Resisten bagian 1... Mencari bahan aktif yang "aman dari resistensi" sebenarnya cukup menantang karen...