Kamis, 19 Februari 2026

PENGGUNAAN SIDATHIAM UNTUK PERLAKUAN BENIH





Siapa yang tidak mengenal bahan aktif tiametoksam? Bahan ini dikenal memiliki tingkat residu yang bertahan lebih lama dalam bagian tanaman. Bahkan jika dibandingkan dengan kelas Imidakloprit, Acetamiprid, bahkan Nitenpiram. Bahkan karena kemampuannya ini, penggunaan tiametoksam sempat dilarang di negara-negara maju karena kemampuan residunya yang mampu bertahan lama hingga fase berbunga sehingga membunuh serangga serangga penyerbuk seperti lebah dan  serangga lain.
Di satu sisi residu dianggap sebagai kelebihan tetapi tentunya juga perlu diperhatikan jika dilingkungan sekitar yang diaplikasikan adalah tanaman dengan potensi nektar yang digemari lebah.

Dari pengujian yang telah dilakukan pada periode 2 tahun di dapatkan bahwa bahan aktif ini mampu memberikan perlingungan hingga di atas 90 persen sampai 36 hari setelah spray. Berdasarkan pengujian selama 2 tahun, berikut hasil aplikasi beberapa jenis bahan aktif yang diaplikasikan melalui benih dan diamati kondisi hama yang ditempatkan hingga selesai budidaya. 
Dari hasil pengamatan diketahui tingkat kematian yang dianggap baik adalah sekitar 90 persen dan didapati bahwa hama yang ditempatkan di sekitar benih tanaman menunjukkan tingkat kematian hingga 93,87 % pada 22 Hari setelah seed treatment dan terus menjaga kondisi benih hingga 36 hari. 
Pada ulangan di tahun berikutnya, penggunaan tiametoksam memang sedikit mengalami penurunan akan tetapi masih tergolong salahsatu yang tertinggi dan hanya kalah dibandingkan dengan generasi bahan aktif yang lebih baru yang juga di dapat dari metabolit tiametoksam yaitu bahan aktif  klotianidin yang nampak sedikit lebih baik.



Coba amati hasil efikasi beberapa bahan aktif dalam memberikan perlindungan tanaman dari serangan hama di atas. Benih yang dilakukan treatment menggunakan masing-masing bahan akti dilakukan penanaman di lahan dan diamati tingkat serangan yang datang. Dari pengamatan di peroleh hasil bahwa hingga hari ke 36, benih yang dilakukan treatment menggunakan thiametoksam masih aman dari serangan hingga mencapai 93,7 -97,48%, hasil yang sama juga diperoleh dari hasil klotianidin 96 -97%. 

Dari hasil uji coba pada dua periode tahun di dapatkan bahwa efektifitas kedua bahan aktif ini terbukti ampuh dalam memberikan perlindungan benih hingga tumbuh sampai hari ke 36 setelah aplikasi. Penggunaan seed treatmen pada benih dapat mengurangi penggunaan insektisida tabur yang selama ini banyak juga dipakai petani semisal karbofuran, diazinon dan fipronil.





Pada kondisi wilayah tertentu yang tidak dimungkinkan untuk dilakukan penaburan insektisida granul, metode seed treatmen mampu berperan lebih dalam memberikan perlindungan tanaman. Penggunaan insektisida tabur kurang efektif jika potensi lahan berada pada topografi kemiringan lereng yang menyebabkan limpasan air lebih mudah menggerus permukaan tanah dan menghilangkan insektisida yagn telah di tebarkan. 
Pada hasil pengujian, diperkirakan residu insektisida thiametoksan akan berkurang setelah usia di atas45 hari dan tentunya sudah saatnya utnuk dilakukan proteksi lanjutan dengan pengaplikasian insektisida spray.

Berdasarkan data penelitian yang Anda unggah dan sumber ilmiah terkait, perbandingan efektivitas antara perlakuan benih (seed treatment) dan penyemprotan daun (foliar spray) untuk bahan aktif Thiametoksam dapat dirangkum sebagai berikut:

Efektivitas Berdasarkan Cara Aplikasi

Secara teknis, perlakuan benih (seed treatment) dengan Thiametoksam seringkali dianggap lebih efektif dan efisien untuk perlindungan fase awal tanaman karena beberapa alasan yang didukung oleh data penelitian tersebut:

  • Perlindungan Dini yang Stabil: Data menunjukkan bahwa aplikasi pada benih (sebagaimana diuji dalam jurnal tersebut) memberikan efikasi kontrol yang sangat tinggi, mencapai 97.48% pada 36 hari setelah tanam (36 DAS).

  • Ketahanan Jangka Panjang: Dengan perlakuan benih, zat aktif terserap secara sistemik ke seluruh jaringan tanaman sejak berkecambah, sehingga melindungi tanaman dari dalam selama lebih dari sebulan tanpa perlu penyemprotan berulang di awal pertumbuhan.

  • Efisiensi Dosis: Perlakuan benih menggunakan jumlah bahan aktif yang jauh lebih sedikit per hektar dibandingkan penyemprotan daun, namun memberikan hasil kontrol yang setara atau bahkan lebih baik terhadap hama pengisap seperti Thrips.

Perbandingan Visual

FiturPerlakuan Benih (Seed Treatment)Penyemprotan Daun (Foliar Spray)
Waktu PerlindunganMelindungi sejak hari ke-1 saat benih tumbuh.Melindungi hanya setelah ada daun yang tumbuh dan disemprot.
EfisiensiSangat tinggi, tidak terpengaruh air hujan atau angin.Berisiko tercuci air hujan atau hilang karena penguapan.
Target HamaSangat efektif untuk hama awal musim (Thrips, Kutu, Wereng).Lebih efektif untuk serangan hama yang terjadi mendadak di tengah musim.
Dampak LingkunganLebih rendah karena aplikasi terfokus pada benih.Lebih tinggi karena residu bisa menyebar ke tanah dan serangga penyerbuk.

Kesimpulan untuk Pemasaran

Jika Anda memasarkan Thiametoksam cair, Anda bisa mengedukasi petani bahwa produk Anda bisa digunakan untuk dua fungsi:

  1. Sebagai Perlakuan Benih: Untuk mencegah serangan hama sejak dini (proteksi 30-40 hari pertama).

  2. Sebagai Spray: Untuk tindakan penyelamatan (curative) jika terjadi ledakan hama di lapangan.

Panduan Praktis Perlakuan Benih dengan Thiametoksam

Lindungi Tanaman Sejak Hari Pertama!

Berdasarkan penelitian, penggunaan Thiametoksam pada benih jauh lebih efektif karena zat aktif langsung meresap ke dalam jaringan tanaman dan melindunginya dari dalam hingga 36 hari setelah tanam.

Keunggulan Perlakuan Benih (Dibanding Semprot):

  • Proteksi Dini: Tanaman sudah kebal terhadap Thrips, Kutu, dan Wereng sejak baru tumbuh.

  • Lebih Stabil: Tidak hilang tercuci air hujan atau terkena sinar matahari, berbeda dengan aplikasi semprot.

  • Efisiensi Tinggi: Tingkat keberhasilan pengendalian hama mencapai 97.48% (lebih tinggi dan stabil dibandingkan metode lain).

  • Hemat Biaya: Mengurangi frekuensi penyemprotan di awal musim tanam.

Cara Aplikasi yang Benar:

  1. Siapkan Benih: Pastikan benih dalam kondisi kering dan bersih.

  2. Dosis Penggunaan: Gunakan takaran sesuai hasil riset untuk hasil maksimal (Dosis 2 dalam tabel menunjukkan efikasi stabil di angka 88-97%).

  3. Pencampuran:

    • Campurkan Thiametoksam cair dengan sedikit air (cukup untuk membasahi permukaan benih saja).

    • Masukkan benih ke dalam plastik atau wadah tertutup.

    • Kocok perlahan hingga warna cairan menyelimuti benih secara merata.

  4. Pengeringan: Angin-anginkan benih di tempat teduh (jangan di bawah matahari langsung) hingga kering sebelum ditanam.

Pada pengalaman untuk perlakuan benih kentang dan bawang apakah memungkinkan? Secara teknis dan pendaftaran produk di Indonesia, tiametoksam (bahan aktif dalam Sidathiam) memang sangat populer dan efektif untuk seed treatment (perlakuan benih), namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan khusus untuk bawang merah dan kentang:

Penggunaan pada Kentang

Sangat Dianjurkan. Tiametoksam sering digunakan sebagai perlakuan umbi bibit kentang.

  • Fungsi: Melindungi tanaman muda dari serangan kutu daun (aphids), kutu kebul, dan hama tanah sejak dini.

  • Cara Aplikasi: Larutan insektisida disemprotkan secara merata ke umbi bibit sebelum ditanam atau umbi dicelupkan sebentar (tergantung formulasi).

Penggunaan pada Bawang Merah

Bisa, namun jarang disebut "Seed Treatment". Pada bawang merah, istilahnya lebih sering disebut perlakuan umbi bibit.

  • Fungsi: Untuk mencegah serangan hama pengisap dan sebagai perlindungan sistemik di awal pertumbuhan.

  • Catatan Penting: Penggunaan tiametoksam pada bawang merah lebih sering dilakukan melalui metode penyiraman/kocor pada lubang tanam atau penyemprotan foliar (daun). Jika digunakan untuk perlakuan umbi, pastikan konsentrasinya tepat agar tidak mengganggu proses pertunasan.


Keunggulan Tiametoksam untuk Perlakuan Benih/Umbi:

  1. Sistemik Kuat: Bahan aktif diserap oleh benih/umbi dan didistribusikan ke seluruh jaringan tanaman yang baru tumbuh.

  2. Vigor Effect: Tiametoksam dikenal memiliki efek memicu pertumbuhan tanaman sehingga tanaman tampak lebih hijau dan kokoh di awal fase vegetatif.

  3. Perlindungan Dini: Mengurangi frekuensi penyemprotan di awal tanam, yang berarti lebih hemat biaya tenaga kerja.

Peringatan: Pastikan untuk selalu membaca dosis yang tertera pada label kemasan Sidathiam, karena kelebihan dosis pada perlakuan benih/umbi dapat bersifat fitotoksik (menghambat pertumbuhan tunas).



Senin, 16 Februari 2026

UJI BANDING HERBISIDA AMMONIUM GLUFOSINAT, PARAKUAT DAN IPA GLIFOSAT


Pilihan antara amonium glufosinat, parakuat, dan glifosat sebenarnya bukan soal mana yang mutlak "lebih baik", melainkan mana yang paling cocok dengan kebutuhan lahan Anda. Ketiganya punya cara kerja dan profil keamanan yang sangat berbeda.

Berikut adalah perbandingan singkatnya agar Anda bisa menentukan pilihan:


1. Perbandingan Cara Kerja

FiturGlifosatParakuatAmonium Glufosinat
SifatSistemik (Meresap ke akar)Kontak (Hanya yang terkena)Kontak + Sistemik Lokal
KecepatanLambat (7–14 hari)Sangat Cepat (Hitungan jam)Sedang (3–7 hari)
TargetHampir semua gulmaGulma berdaun lebarLuas (termasuk yang resisten glifosat)
Residu TanahAda, tapi mengikat kuatSangat kuat (tidak aktif di tanah)Singkat/Cepat terurai

2. Mengapa Amonium Glufosinat Sering Dianggap "Unggul"?

Glufosinat sering disebut sebagai jalan tengah atau solusi modern karena beberapa alasan:

  • Solusi Gulma Resisten: Banyak gulma sekarang sudah "kebal" terhadap glifosat. Glufosinat efektif membasmi gulma yang sudah tidak mempan lagi disemprot glifosat.

  • Lebih Aman bagi Lingkungan & Pengguna: Parakuat memiliki tingkat toksisitas yang sangat tinggi bagi manusia dan mamalia, bahkan sudah dilarang di banyak negara. Glufosinat jauh lebih aman bagi aplikator dibandingkan parakuat.

  • Keamanan Tanaman Utama: Karena sifatnya yang tidak berpindah secara luas di dalam jaringan tanaman (sistemik terbatas), ia lebih aman digunakan untuk penyemprotan di antara barisan tanaman (seperti jagung atau sawit) selama tidak mengenai bagian hijau tanaman utama.

3. Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan

Meskipun terlihat lebih unggul secara profil keamanan, glufosinat punya kelemahan:

  1. Harga: Biasanya lebih mahal dibandingkan glifosat atau parakuat.

  2. Ketergantungan pada Cuaca: Membutuhkan sinar matahari yang cukup dan kelembapan agar bekerja maksimal.

  3. Tidak Mematikan Akar Sempurna: Tidak sekuat glifosat dalam membunuh gulma menahun (perennial) hingga ke akar terdalam.


Kesimpulan: Mana yang Harus Anda Pilih?

  • Pilih Glifosat jika Anda ingin mematikan gulma sampai ke akar-akarnya di lahan kosong sebelum tanam. Contoh: Sidafos 480 SL, Seetop 525 SL.

  • Pilih Parakuat jika Anda butuh hasil instan (misal: ingin lahan bersih dalam 1 hari) dan siap dengan standar keamanan/APD yang sangat ketat. Contoh: Sidaxon 276 SL dan Liuxone 150 SL

  • Pilih Amonium Glufosinat jika Anda menghadapi gulma yang bandel (resisten), ingin profil keamanan yang lebih baik, atau melakukan pengendalian gulma di antara tanaman produktif. Contoh: Puddako 210 SL

Catatan Penting: Selalu gunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat melakukan penyemprotan, apa pun jenis herbisida yang Anda pilih.

PENGGUNAAN SIDATHIAM UNTUK PERLAKUAN BENIH

Siapa yang tidak mengenal bahan aktif tiametoksam? Bahan ini dikenal memiliki tingkat residu yang bertahan lebih lama dalam bagian tanaman. ...