Rabu, 04 Februari 2026

TIGA ALASAN UTAMA NITROGEN TINGKATKAN KEMAMPUAN GLIFOSAT?




Berikut adalah 3 alasan utama mengapa nitrogen (seperti ZA atau Urea) membuat glifosat lebih ampuh:


1. Menetralkan "Air Sadah" (Hard Water)

Ini adalah fungsi yang paling krusial. Kebanyakan air yang kita gunakan (air sumur atau air tanah) mengandung ion mineral seperti Kalsium ($Ca^{2+}$) dan Magnesium ($Mg^{2+}$).

  • Masalah: Molekul glifosat bermuatan negatif, sedangkan mineral air bermuatan positif. Mereka akan saling mengikat (kelasi). Jika glifosat sudah terikat mineral air, ia menjadi "lumpuh" dan tidak bisa diserap tanaman.

  • Solusi Nitrogen: Ion Amonium ($NH_4^+$) dari pupuk (terutama ZA/Amonium Sulfat) akan mengikat mineral-mineral tersebut lebih dulu, sehingga molekul glifosat tetap bebas dan aktif untuk menyerang gulma.

2. Meningkatkan Penyerapan (Translokasi)

Tanaman sangat menyukai nitrogen. Ketika nitrogen disemprotkan ke daun bersama glifosat:

  • Tanaman akan membuka pori-porinya (stomata) lebih lebar untuk menyerap "nutrisi" tersebut.

  • Glifosat akan ikut "menumpang" (hitchhiking) masuk ke dalam sistem transportasi tanaman (floem).

  • Hasilnya, racun bergerak lebih cepat dan lebih banyak menuju titik tumbuh dan akar gulma.

3. Mengatasi Gulma yang Sedang Stres

Pada kondisi kering atau berdebu, gulma sering membentuk lapisan lilin yang tebal sebagai pertahanan diri. Penambahan nitrogen membantu memecah hambatan tersebut sehingga herbisida bisa menembus masuk lebih efisien daripada hanya menggunakan air biasa.


Jenis Nitrogen Mana yang Terbaik?

Tidak semua pupuk nitrogen memberikan efek yang sama. Berikut urutannya:

  1. ZA (Amonium Sulfat): Paling Direkomendasikan. Kandungan amoniumnya paling stabil dalam mengikat mineral air dan sangat cepat diserap gulma.

  2. Urea: Cukup baik, namun tidak seefektif ZA dalam mengatasi masalah air sadah. Urea lebih berperan dalam membantu penetrasi lewat daun.

  3. Pupuk Daun (seperti NUTRICOMP D): Bisa digunakan karena biasanya mengandung nitrogen tinggi dan mikronutrien lain.


Dosis yang Disarankan

Agar tidak terjadi overdosis yang justru membakar daun terlalu cepat (seperti kasus garam tadi), gunakan dosis berikut:

  • Dosis: 100 - 200 gram (sekitar 1-2 genggam) pupuk ZA atau Urea per 15 liter air (satu tangki semprot).

  • Cara Campur: Larutkan dulu pupuk dalam ember kecil sampai benar-benar cair, baru masukkan ke dalam tangki yang sudah berisi herbisida.

Hati-hati: Jangan menggunakan dosis nitrogen terlalu tinggi, karena jika daun terbakar secara instan (nekrosis), glifosat justru gagal mengalir ke akar dan gulma bisa tumbuh lagi bahkan lebih subur dari sebelumnya.

Selasa, 03 Februari 2026

AZOKSISTROBIN + SIMOKSANIL LEBIH UNGGUL DIBANDING KOMBINASI AZOKSISTROBIN + DIFENOKONAZOL DI FASE VEGETATIF



Selama ini diketahui bahwa Difenokonazol termasuk dalam golongan Triazole yang memiliki efek samping berupa penghambatan sintesis giberelin. Jika diaplikasikan terlalu dini atau dengan dosis tinggi pada fase vegetatif, tanaman padi bisa mengalami "stunting" atau kerdil karena ruas batangnya memendek.

Bukankah selama ini diketahui fungisida padi kombinasi Azoksistrobin + Difenokonazol banyak digunakan di tanaman Padi?

"Tepat sekali" selain fungsinya sebagai pengendali penyakit, kandungan diffenokonazol dipercaya mampu menghambat giberelin sehingga pada waktu penggunaan yang tepat tanaman padi akan lebih fokus konsentrasinya dalam merangsang pembungaan dan pengisian bulir.

Meskipun Difenokonazol sangat bagus, beberapa petani menghindari dosis tinggi Difenokonazol pada awal fase vegetatif karena sifatnya yang terkadang sedikit "mengerem" (stunting) pertumbuhan tinggi tanaman jika dosisnya tidak tepat.

Keterangan: Dampak Tanaman padi yang tampak sembuh dari penyakit tetapi sedikit kerdil karena efek penggunaan diffenokonazol terlalu banyak di fase vegetatif.


Bagaimana seharunya solusi terbaik?

Berikut adalah alasan mengapa transisi ke Azoksistrobin + Simoksanil di fase vegetatif memang solusi yang lebih ideal:

1. Keamanan Pertumbuhan (Safety Profile)

  • Simoksanil: Tidak memiliki efek menghambat pertumbuhan. Ia murni bekerja merusak sistem sel jamur secara cepat tanpa mengganggu hormon pertumbuhan tanaman.

  • Azoksistrobin: Justru memberikan efek "greening" (memperlama masa hijau daun). Di fase vegetatif, ini sangat menguntungkan untuk memaksimalkan proses fotosintesis agar anakan terbentuk lebih banyak dan kuat.

2. Efek Kuratif Tanpa Risiko

Pada fase vegetatif, serangan blas seringkali muncul secara sporadis (mendadak).

  • Penggunaan Simoksanil memberikan daya sembuh yang instan (kuratif) pada infeksi yang sudah ada.

  • Karena tidak menghambat pertumbuhan, tanaman tetap bisa melaju mencapai potensi tinggi dan jumlah anakan maksimal.

3. Jembatan Menuju Fase Generatif

Dengan menggunakan kombinasi ini di awal (vegetatif), Anda "menyimpan" kekuatan Difenokonazol untuk fase yang lebih krusial, yaitu fase bunting hingga pengisian bulir.

  • Di fase generatif, efek "mengerem" dari Difenokonazol justru menjadi keuntungan karena energi tanaman dialihkan dari pertumbuhan vegetatif (daun/batang) ke pengisian malai (bulir).





Strategi Rekomendasi Anda:

Fase TanamanKombinasi FungisidaAlasan Utama
Vegetatif (15-40 HST)Azoksistrobin + SimoksanilMenyembuhkan blas tanpa membuat padi kerdil; menjaga daun tetap hijau.
Generatif (55 HST - Panen)Azoksistrobin + DifenokonazolPerlindungan total malai (Patah leher/Ustilago) & mengoptimalkan bobot gabah.

Menggabungkan Azoksistrobin + Simoksanil pada fase vegetatif adalah langkah yang sangat cerdas dan strategis, terutama jika tujuannya adalah "pembersihan total" di awal.

Berikut adalah alasan mengapa kombinasi ini menarik dan kapan sebaiknya diaplikasikan:

1. Mengapa Kombinasi Ini Bagus di Fase Vegetatif?

Fase vegetatif adalah masa pembentukan anakan dan perluasan daun. Serangan penyakit pada fase ini biasanya berupa Blas Daun atau Bercak Daun.

  • Simoksanil sebagai "Pemadam Kebakaran": Jika sudah ada gejala serangan (bercak cokelat), Simoksanil bekerja secara kuratif cepat untuk menghentikan infeksi saat itu juga dalam hitungan jam.

  • Azoksistrobin sebagai "Benteng & Vitamin": Bahan ini memberikan perlindungan sistemik yang lebih lama dan memiliki efek ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang membuat daun lebih hijau dan fotosintesis lebih maksimal.

2. Efek Sinergi yang Dihasilkan

Campuran ini menciptakan efek "Kick-back & Protect":

  • Simoksanil menghancurkan jamur yang sudah masuk ke jaringan daun (daya kuratif kuat).

  • Azoksistrobin menjaga daun-daun baru yang tumbuh agar tidak tertular (daya preventif kuat).

  • Ini jauh lebih baik daripada Simoksanil tunggal yang mudah hilang kekuatannya dalam 3 hari.




Keunggulan Kombinasi Azoksistrobin + Simoksanil Dibandingkan Difenokonazol di Fase Vegetatif

  • Kombinasi Azoksistrobin + Simoksanil cenderung lebih "dingin" dan mendukung pertumbuhan tunas/anakan baru tanpa risiko menghambat tinggi tanaman secara signifikan.


Kapan Waktu Paling Tepat Menggunakannya?

Gunakan kombinasi Azoksistrobin + Simoksanil jika Anda menemui kondisi berikut di fase vegetatif:

  1. Cuaca Ekstrem: Hujan terus-menerus dengan kelembapan tinggi yang memicu munculnya bintik blas daun.

  2. Serangan Muncul Tiba-tiba: Saat Anda melihat bintik belah ketupat mulai menyebar di daun bawah.

  3. Sebelum Pemupukan Urea Kedua: Agar tanaman dalam kondisi bersih sebelum dipacu pertumbuhannya dengan Nitrogen.


Kesimpulan Strategi:

FaseKombinasi RekomendasiTujuan
Vegetatif (Anakan)Azoksistrobin + SimoksanilKuratif cepat (penyembuhan) & menjaga anakan tetap sehat.
Generatif (Bunting/Mratak)Azoksistrobin + DifenokonazolPerlindungan jangka panjang (residual) & bobot bulir.

Satu tips kecil: 

Kendati bagus digunakan pada fase vegetatif, Simoksanil daya tahannya singkat, jika setelah penyemprotan cuaca masih hujan deras selama 3 hari berturut-turut, pantau kembali lahan Anda. 

Petani cerdas harus memahami ini dan tau kapan memilih menggunakan kombinasi Simoksanil dan kapan menggunakan kombinasi Diffenokonazol. 

Di pasaran telah hadir produk kombinasi yang disebut paket FEBI (Fenosida dan Sidabin). Fenosida adalah fungisida berbahan aktif difenokonazol dan Sidabin adalah fungisida kombinasi bahan aktif azoksistrobin+ Simoksanil. Pembelian produk FEBI petani sudah menyiapkan paket perlindungan penyakit padi baik di fase vegetatif maupun generatif. Yuk cerdas dalam bertani.




Salam Merdesa

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya.

TIGA ALASAN UTAMA NITROGEN TINGKATKAN KEMAMPUAN GLIFOSAT?

Berikut adalah 3 alasan utama mengapa nitrogen (seperti ZA atau Urea ) membuat glifosat lebih ampuh: 1. Menetralkan "Air Sadah" (...