Kamis, 15 Oktober 2026

"Sekali Coba Terbukti Nyata, Alasan Petani Selalu Kembali ke TRICHOSIDA!"





Trichosida adalah fungisida hayati berbasis hayati yang diperkaya dengan 3 kandungan mikroba unggul indegenous asli Indonesia. Sesuai namanya "Tri" atau diasosiasikan 3 (tiga) Trichosida WP produksi PT Petrosida Gresik mengandung tiga bahan aktif mikroba (agen hayati) unggulan yang bersinergi untuk perlindungan dan pertumbuhan tanaman:

  1. Trichoderma harzianum Berperan sebagai jamur antagonis dan agen biosterilisasi alami yang menekan perkembangan patogen tular tanah (seperti penyebab layu Fusarium dan jamur akar putih), sekaligus menghasilkan fitohormon pemacu pertumbuhan akar.

  2. Gliocladium virens Berfungsi secara sinergis menekan pertumbuhan spora jamur jahat dan melindungi area perakaran tanaman dari infeksi penyakit tular tanah.

  3. Bacillus amyloliquefaciens Merupakan bakteri baik (plant growth-promoting rhizobacteria / PGPR) yang memperkuat ketahanan sistemik tanaman (Induced Systemic Resistance), menghasilkan antibiotik alami untuk melawan patogen, serta membantu memulihkan kesehatan tanaman pasca serangan penyakit.

Kombinasi ketiga mikroba ini menjadikan Trichosida sebagai biofungisida multi-aksi yang tidak hanya melindungi tanaman dari penyakit, tetapi juga menyuburkan tanah dan memacu pertumbuhan tanaman secara optimal.



Pada pengamatan tampilan komoditi tomat/cabai yang biasa terkena layu fusarium, kentang yang terkena serangan jamur rhizoctonia solani serta karet yang terkena serangan hjamur akar putih. Penggunaan trichosida sebagai campuran pupuk dasar maupun treatment dengan sistem kocoran dengan interval 7-14 hari sekali mampu memberikan perlindungan sekaligus dapat juga sebagai pengobatan kondisi serangan penyakit yang terjadi pada tanaman tomat/cabai, kentang maupun karet.
Cara Penggunaan Trichosida: 
Campurkan 3-5 gram pada setiap kilogram  pupuk organik. Aduk merata dan pupuk siap digunakan. Untuk sistem kocor campurkan 3-5 gram trichosida setiap 1 liter air dan diaplikasikan 100-200 ml per pokok tanaman menyesuaikan ukuran tanaman atau dapat ditingkatkan takarannya hingga 10 gram per liter air.

Keterbatasan produk hayati adalah karena mengandung mikroba hidup tentunya tidak dapat di campurkan dengan fungisida/ pestisida kimia secara langsung. Untuk anda yang bertani organik murni, produk ini sangat cocok dan ampuh. Bagi anda yang mesih belum berani meninggalkan penggunaan pestisida kimia maka penggunaan trichosida dapat dibuta berseling atau hanya pada kondisi vegetatif saja. 

Berbeda dengan penggunaan fungisida/bakterisida yang dapat menimbulkan efek "burning" yang tidak diinginkan petani, penggunaan trichosida lebih diminati karena cara kerjanya adalah dengan menekan pertumbuhan mikriba patogen. Kemampuan tersebut selain menghambat pertumbuhan patogen juga mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman yang di aplikasi. Kenapa demikian ? karena kandungan fitohormon yang dihasilkan oleh Trichoderma harzianum serta membantu memulihkan kesehatan tanaman pasca serangan penyakit peran dari Bacillus amyloliquefaciens.



Kamis, 08 Oktober 2026

PENGUJIAN BACILLUS SUBTILIS DALAM MENGATASI MIKROBA PENYEBAB LAYU PADA KENTANG, CABAI DAN BAWANG



Bentuk visual hasil uji antagonis Bacillus subtilis di cawan petri berbeda tergantung pada patogen sasarannya (jamur Fusarium oxysporum atau bakteri Ralstonia solanacearum), namun keduanya memiliki indikator kunci yang sama: kemunculan zona hambat (zona bening/transparan).

Pada aplikasi kocor di lapangan, hasil dari pengocoran Bacillus subtilis umumnya mulai terlihat dalam rentang 3 hingga 14 hari, tergantung pada tingkat keparahan infeksi awal dan kondisi media tanah.

Estimasi Tahapan Hasil di Lapangan

  • Hari ke-3 sampai 7 (Fase Kesegaran & Akar Baru)

    • Tanaman yang mulai loyo atau stres terlihat lebih tegak dan segar, terutama pada pagi hari.

    • Mulai tumbuh bulu-bulu akar baru berwarna putih jernih di sekitar area perakaran.

  • Hari ke-7 sampai 14 (Fase Penghentian Penyebaran Layu)

    • Penyebaran penyakit layu ke barisan tanaman yang sehat terhenti secara signifikan.

    • Tanaman dengan gejala infeksi ringan mulai mengeluarkan tunas atau pucuk daun baru yang hijau normal.

  • Hari ke-14 ke Atas (Fase Perlindungan Optimal)

    • Lapisan biofilm mikroba telah melapisi permukaan akar secara penuh, menjaga tanaman dari infeksi patogen susulan di dalam tanah.

Faktor yang Memengaruhi Kecepatan Hasil

  • Kondisi Tanaman Saat Dikocor: Tanaman yang jaringan batang dalamnya sudah mati total/hitam tidak bisa dipulihkan kembali. Pengocoran pada area tersebut berfungsi mencegah penularan ke tanaman tetangga.

  • Kelembapan Tanah: Mikroba aktif paling cepat di tanah yang lembap. Aplikasi pada tanah yang terlalu kering atau terendam air tergenang akan memperlambat respon bakteri.

  • Aktivasi Awal: Melarutkan produk bersama sedikit molase atau gula merah cair 2–4 jam sebelum dikocorkan akan membuat bakteri langsung aktif bekerja begitu menyentuh tanah.

Bacillus subtilis mampu menekan dan mengatasi layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, namun efektivitas terbesarnya berada pada tindakan pencegahan (preventif) dan penanganan fase awal.

Mekanisme Bacillus subtilis Menumpas Ralstonia solanacearum

  • Menghasilkan Senyawa Antibakteri & Bakteriosin

    • Bacillus subtilis memproduksi metabolit spesifik seperti surfactin, difficidin, bacillomycin, dan subtilin.

    • Senyawa ini secara langsung merusak struktur membran sel bakteri Ralstonia, mengganggu pembelahan selnya, dan menghentikan perkembangbiakannya di area tanah.

  • Perebutan Nutrisi & Zat Besi (Siderofor)

    • B. subtilis mengekskresikan senyawa siderofor yang sangat kuat mengikat unsur besi ($Fe$) di dalam tanah.

    • Hal ini membuat bakteri Ralstonia kekurangan nutrisi esensial untuk berkembang biak di sekitar rizosfer (area akar).

  • Pembentukan Biofilm Pelindung Akar

    • B. subtilis mengolonisasi permukaan akar dengan cepat dan membentuk lapisan biologi (biofilm). Lapisan ini berfungsi sebagai benteng fisik agar bakteri Ralstonia tidak dapat menemukan celah luka pada akar untuk masuk ke pembuluh kayu (xilem) tanaman.

  • Induksi Ketahanan Sistemik (ISR)

    • Kehadiran B. subtilis merangsang tanaman untuk memproduksi enzim pertahanan alami (seperti peroxidase dan polyphenol oxidase) serta mempertebal dinding sel vaskular, sehingga tanaman lebih kebal terhadap invasi bakteri patogen.

Keterbatasan dan Catatan Penting di Lapangan

  • Sifat Layu Bakteri yang Sangat Cepat

    • Berbeda dengan layu jamur (Fusarium) yang perkembangannya relatif lambat, layu bakteri (Ralstonia) dapat mematikan tanaman hanya dalam hitungan hari (gejala layu hijau).

  • Bukan "Obat Pembasmi" Tanaman Mati

    • Jika tanaman sudah layu total karena pembuluh xilemnya tersumbat lendir bakteri (bacterial ooze), Bacillus subtilis tidak dapat memulihkan kembali jaringan yang sudah mati. Pengocoran pada kondisi ini bertujuan mencegah penularan ke tanaman sehat di sekitarnya.

  • Fokus Aplikasi Preventif

    • Keberhasilan terbaik tercapai jika Bacillus subtilis sudah dikocorkan sejak olah tanah, perlakuan bibit, atau fase vegetatif awal, sebelum bakteri Ralstonia menginfeksi akar.

Strategi Optimal Menghadapi Layu Bakteri

  1. Aplikasi Kocor Dini: Kocorkan B. subtilis berkala setiap 7–10 hari sekali sejak awal tanam.

  2. Kendalikan Nematoda Akar: Bintil atau luka akibat nematoda tanah menjadi "pintu masuk" utama Ralstonia. Kombinasikan pengelolaan tanah agar bebas nematoda.

  3. Atur Drainase Lahan: Bakteri Ralstonia sangat cepat menyebar melalui air tergenang. Buat gulutan yang tinggi dan saluran drainase yang lancar.



Kenampakan/ visual kemampuan mikroba Bacillus Subtilis mengatasi mikroba penyebab layu



                                    Zona hambat Bacillus pada Fusarium. Source: ResearchGate


1. Uji Antagonis Lawan Fusarium oxysporum (Layu Jamur)

Pengujian ini umumnya menggunakan metode Biakan Ganda (Dual Culture Method) pada media PDA (Potato Dextrose Agar).

  • Penampakan Koloni:

    • Jamur Fusarium oxysporum tumbuh membentuk miselium berserat putih keunguan/merah muda di satu sisi cawan.

    • Bakteri Bacillus subtilis digoreskan sebagai garis atau titik tebal berwarna putih krem di sisi berlawanan.

  • Zona Hambat (Zone of Inhibition): Di antara koloni Bacillus dan Fusarium, terdapat celah agar transparan yang tidak bisa ditembus oleh miselium jamur.

  • Morfologi Hifa: Pertumbuhan hifa jamur yang mendekati bakteri tampak terhenti, mengkerut, melingkar, atau lisis (hancur) akibat paparan senyawa lipopeptida (iturin/surfactin) dan enzim litik.


                            Cincin penekanan bakteri Ralstonia. Source: ResearchGate



2. Uji Antagonis Lawan Ralstonia solanacearum (Layu Bakteri)

Pengujian antar-bakteri ini menggunakan metode Sumur Agar (Well Diffusion) atau Cakram Kertas (Paper Disc Method).

  • Penampakan Koloni:

    • Bakteri Ralstonia solanacearum diratakan di seluruh permukaan agar hingga membentuk lapisan keruh (bacterial lawn).

    • Bacillus subtilis atau ekstrak metabolitnya diletakkan pada titik sumuran/cakram di dalam cawan.

  • Halo / Cincin Bening: Terbentuk lingkaran jernih mengelilingi titik Bacillus subtilis. Lingkungan bening ini adalah area steril di mana Ralstonia mati akibat paparan bakteriosin dan antibakteri alami.

Indikator Efektivitas Uji Antagonis

Indikator VisualMakna Biologis
Lebar Diameter Zona Bening (mm)Semakin lebar jarak transparan, semakin tinggi daya sekresi antibiotik/enzim Bacillus subtilis.
Batas Hambat Tegas/JelasMenunjukkan senyawa aktif bersifat bakterisida/fungisida (membunuh langsung), bukan sekadar menunda pertumbuhan.
Perubahan Warna MiseliumMiselium jamur di batas zona hambat yang memudar atau kecokelatan menandakan sel-sel jaringan jamur telah mati. 

"Sekali Coba Terbukti Nyata, Alasan Petani Selalu Kembali ke TRICHOSIDA!"

Trichosida adalah fungisida hayati berbasis hayati yang diperkaya dengan 3 kandungan mikroba unggul indegenous asli Indonesia. Sesuai namany...