Senin, 04 Mei 2026

KELEBIHAN PETROPHOS BIOSTIMULAN FUNGSI GANDA



Berdasarkan berbagai studi dan jurnal pertanian terbaru, Petrophos dengan kandungan Asam Fosfit (Phosphite/Phi) diakui selain memiliki fungsi sebagai biostimulan yang sangat efektif juga sebagai Fungisida..

Berikut adalah rangkuman manfaat asam fosfit yang sering dibahas dalam jurnal ilmiah, terutama untuk tanaman jagung, padi, dan hortikultura:

1. Pengendalian Penyakit (Fungisida Spesifik Oomycetes)

Jurnal-jurnal seperti dari Universitas Lampung dan Brawijaya Knowledge Garden menyoroti efektivitas asam fosfit dalam mengendalikan patogen golongan Oomycetes.

  • Penyakit Bulai (Peronosclerospora spp.): Aplikasi asam fosfit (baik semprot maupun seed treatment) terbukti menekan tingkat keterjadian penyakit bulai pada jagung.

  • Penyakit Lanas (Phytophthora nicotianae): Efektif melindungi pembibitan tembakau dengan tingkat efikasi mencapai 60% lebih pada dosis tertentu.

  • Penyakit Busuk Akar & Batang: Sangat kuat dalam menghambat genus Phytophthora dan Pythium yang sering menyerang tanaman hortikultura (kentang, cabai, bawang merah).

2. Mekanisme Kerja Ganda (Direct & Indirect)

Salah satu keunikan asam fosfit yang sering diteliti adalah cara kerjanya yang "cerdas":

  • Aksi Langsung: Pada konsentrasi tinggi, ia menghambat pertumbuhan miselium patogen secara langsung.

  • Aksi Tidak Langsung (SAR - Systemic Acquired Resistance): Pada konsentrasi rendah, ia merangsang tanaman untuk memproduksi fitofaleksin (antibodi alami tanaman) dan mempertebal dinding sel. Ini membuat tanaman "siaga" sebelum serangan datang.

3. Sebagai Biostimulan & Pemacu Pertumbuhan

Meskipun asam fosfit tidak bisa menggantikan fungsi pupuk Fosfat (P) sebagai nutrisi utama, jurnal Frontiers in Plant Science (2025) menyebutkan manfaat tambahannya:

  • Pertumbuhan Akar: Aplikasi foliar (semprot daun) dapat meningkatkan biomassa akar hingga 30%.

  • Efisiensi Air: Meningkatkan efisiensi penggunaan air (WUE) dan asimilasi karbon, sehingga tanaman lebih tahan terhadap stres lingkungan (seperti kemarau atau cuaca ekstrem).

4. Sinergisitas dengan Bahan Aktif Lain

Dalam manajemen resistensi, asam fosfit sering diteliti sebagai mitra campuran yang sangat baik. Jurnal menunjukkan sinergi yang kuat jika dicampur dengan:

  • Dimetomorf  untuk memperkuat perlindungan terhadap penyakit bulai yang sudah mulai resisten. Merk fungisida dengan kandungan tinggi Suhle 60 WP (Dimetomorf 60%), atau kandungan kombinasi dengan Cyazofamid untuk perlindungan tanaman hortikultura di wilayah tropis yang lembap merk Downmid 300/100 EC


Mempersiapkan strategi menghadapi Super El Nino 2026, penggunaan asam fosfit (seperti yang terkandung dalam produk Petrophos sangat relevan. Selain menjaga tanaman dari penyakit yang muncul saat kelembapan fluktuatif, efek biostimulannya membantu akar mencari air lebih dalam di saat tanah mulai kering.

Rabu, 29 April 2026

MENGHADAPI HAMA RESISTEN, BAGAIMANA SEHARUSNYA?

 


Menghadapi Hama dan Penyakit Resisten: Bagaimana Seharusnya?

Fenomena resistensi hama/ penyakit terhadap pestisida telah menjadi tantangan serius bagi dunia pertanian modern. Ketika sebuah produk yang biasanya ampuh tiba-tiba kehilangan taji, petani sering kali terjebak dalam siklus peningkatan dosis yang justru memperparah keadaan.

Lantas, bagaimana langkah strategis yang harus diambil untuk mengatasi kebuntuan ini?


1. Memahami Mekanisme Resistensi

Resistensi bukanlah fenomena gaib, melainkan proses evolusi yang dipercepat. Penggunaan bahan aktif yang sama secara terus-menerus akan membunuh hama/penyakit yang peka dan menyisakan segelintir individu yang memiliki "gen kekebalan". Individu yang selamat ini kemudian berkembang biak, menciptakan populasi baru yang tidak lagi mempan dengan racun yang sama.

2. Rotasi Bahan Aktif (Bukan Sekadar Ganti Merek)

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah mengganti merek dagang namun tetap menggunakan bahan aktif dari golongan kimia yang sama. Strategi yang benar adalah melakukan rotasi antar-golongan.

Misalnya, jika sebelumnya menggunakan golongan Neonicotinoid (seperti Nitenpiram), sebaiknya tidak menggantinya dengan merek lain yang juga berbahan aktif Neonicotinoid. Gunakanlah golongan lain yang memiliki cara kerja (mode of action) berbeda agar sistem saraf atau metabolisme hama tidak sempat beradaptasi.

3. Manajemen Dosis yang Tepat

Prinsip "lebih banyak lebih baik" adalah musuh utama dalam pengendalian hama. Penggunaan dosis di bawah anjuran (sub-lethal dose) justru memberikan kesempatan bagi hama untuk membangun kekebalan. Sebaliknya, dosis yang terlalu tinggi mempercepat seleksi alami hama resisten. Selalu ikuti petunjuk label untuk menjaga efikasi produk.

4. Implementasi PHT (Pengendalian Hama Terpadu)

Pestisida kimia seharusnya menjadi senjata terakhir, bukan satu-satunya. Pendekatan PHT melibatkan beberapa elemen:

  • Pengendalian Hayati: Memanfaatkan musuh alami atau predator.

  • Kultural: Rotasi tanaman dan pengaturan jarak tanam untuk memutus siklus hidup hama.

  • Mekanis: Pemasangan perangkap atau pembersihan inang alternatif di sekitar lahan.

5. Penggunaan Ajuvan dan Campuran yang Bijak

Beberapa petani menggunakan surfactan atau perata untuk meningkatkan daya tempel pestisida pada tanaman yang memiliki lapisan lilin. Selain itu, pencampuran dua bahan aktif dengan cara kerja berbeda dapat menjadi solusi, asalkan kedua bahan tersebut kompatibel dan tidak saling menetralkan secara kimiawi.


Kesimpulan

Menghadapi hama resisten membutuhkan kedisiplinan dan pengetahuan teknis yang tepat. Dengan beralih dari pola pikir "membasmi secara instan" menjadi "mengelola populasi secara berkelanjutan", petani dapat menjaga produktivitas lahan sekaligus memperpanjang umur efikasi dari produk-produk perlindungan tanaman yang ada.

Kuncinya adalah keberagaman: beragam cara kerja, beragam metode, dan beragam solusi.

KELEBIHAN PETROPHOS BIOSTIMULAN FUNGSI GANDA

Berdasarkan berbagai studi dan jurnal pertanian terbaru, Petrophos dengan kandungan  Asam Fosfit (Phosphite/Phi) diakui selain memiliki fun...