Petrophos dengan kandungan Asam fosfit (H3PO3), atau dalam bentuk garamnya dikenal sebagai fosfit (phosphite), telah lama diteliti karena kemampuannya yang unik dalam menekan pertumbuhan patogen. Menariknya, meskipun strukturnya mirip dengan asam fosfat (H3PO4), fosfit tidak berfungsi sebagai nutrisi tanaman, melainkan sebagai agen pengendali penyakit yang efektif.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai fungsi antibakteri/antimikroba asam fosfit beserta referensi jurnal yang relevan:
1. Mekanisme Kerja Ganda
Penelitian menunjukkan bahwa asam fosfit bekerja melalui dua jalur utama:
Aksi Langsung: Menghambat pertumbuhan miselia dan menghalangi proses metabolisme pada patogen (terutama golongan Oomycetes dan beberapa bakteri tertentu).
Aksi Tidak Langsung: Memicu sistem pertahanan alami tanaman yang dikenal sebagai Systemic Acquired Resistance (SAR). Fosfit merangsang produksi fitoaleksin dan protein terkait patogenesis (PR-proteins).
Asam fosfit (H3PO3) atau dalam bentuk garamnya (fosfit/fosfonat) dikenal sebagai elisitor yang sangat efektif dalam mengendalikan patogen tanaman, termasuk bakteri Xanthomonas yang sering menyebabkan penyakit hawar daun bakteri atau kresek.
Berikut adalah penjelasan mengenai mekanisme kerja dan tahapan pengendaliannya secara sistematis:
Cara Kerja Asam Fosfit Melawan Xanthomonas
Asam fosfit bekerja sebagai bakteriostatik yaitu cenderung menghambat pertumbuhan dan reproduksi bakteri melalui mekanisme ganda yang unik, dapat menghambat patogen dan secara tidak langsung memperkuat sistem pertahanan tanaman.
1. Penghambatan Langsung (Direct Action)
Asam fosfit mengganggu metabolisme internal bakteri. Ketika partikel fosfit masuk ke dalam sel bakteri Xanthomonas, ia menghambat proses fosforilasi oksidatif dan mengganggu penyerapan fosfat oleh bakteri. Hal ini menyebabkan pertumbuhan bakteri melambat secara signifikan dan melemahkan kemampuan infeksinya.
2. Induksi Ketahanan Tanaman (Systemic Acquired Resistance - SAR)
Ini adalah fungsi utama asam fosfit. Ia bertindak sebagai "sinyal bahaya" yang memicu respons pertahanan alami tanaman sebelum bakteri sempat merusak jaringan lebih jauh.
Penebalan Dinding Sel: Tanaman memproduksi lignin dan kalosa untuk memperkuat dinding sel agar sulit ditembus bakteri.
Produksi Fitoaleksin: Tanaman merangsang pembentukan senyawa antimikroba alami yang beracun bagi bakteri.
PR-Proteins: Memicu pembentukan protein terkait patogenesis (Pathogenesis-Related proteins) yang berfungsi menyerang struktur sel bakteri.
Tahapan Pengendalian Xanthomonas dengan Asam Fosfit
Untuk mendapatkan hasil maksimal, pengendalian harus dilakukan secara sistemik dengan urutan sebagai berikut:
Aplikasi Preventif (Pencegahan):
Penyemprotan dilakukan sebelum gejala serangan muncul atau saat kondisi lingkungan mendukung perkembangan bakteri (kelembapan tinggi/musim hujan). Pada tahap ini, asam fosfit mulai mengaktifkan sistem "imunitas" tanaman.
Penyerapan dan Translokasi:
Asam fosfit bersifat sistemik dua arah (ambimobile). Setelah disemprotkan ke daun, senyawa ini diserap dan dialirkan melalui pembuluh floem dan xilem ke seluruh bagian tanaman, termasuk ke akar dan tunas baru.
Aktivasi Pertahanan Seluler:
Saat bakteri Xanthomonas mencoba menginfeksi daun, tanaman yang sudah terinduksi oleh fosfit akan langsung merespons dengan mengeluarkan senyawa fenolik dan memperkuat dinding sel di titik infeksi (hipersensitif).
Supresi Koloni Bakteri:
Bakteri yang sudah masuk ke dalam jaringan akan mengalami hambatan metabolisme akibat paparan langsung fosfit, sehingga koloni bakteri tidak mampu menyebar ke pembuluh vaskular yang lebih luas.
Pemulihan Jaringan:
Dengan terhentinya laju infeksi, tanaman dapat memfokuskan energi untuk pertumbuhan vegetatif baru tanpa gangguan dari patogen yang sebelumnya menyerang.
Tips Penggunaan
Konsentrasi: Gunakan dosis sesuai label (biasanya 2–3 ml/liter) untuk menghindari fitotoksisitas (terbakar pada ujung daun). Aplikasikan pada kondisi cuaca teduh di bawah jam 9 pagi atau setelah jam 4 sore.
Pencampuran: Asam fosfit memiliki pH yang cenderung asam. Sebaiknya lakukan uji pencampuran jika ingin dikombinasikan dengan pestisida lain, dan hindari mencampur langsung dengan produk yang mengandung tembaga (copper) dalam konsentrasi tinggi karena dapat menyebabkan keracunan pada tanaman.
2. Referensi Jurnal Terkait
Berikut adalah beberapa literatur kunci yang membahas efikasi dan mekanisme asam fosfit:
Jurnal 1: Mekanisme Pertahanan Tanaman
Judul: Phosphite as a Plant Protector: Mode of Action and Role in Agriculture
Penulis: Gómez-Merino, F. C., & Trejo-Téllez, L. I. (2015).
Intisari: Jurnal ini menjelaskan secara komprehensif bagaimana fosfit bertindak sebagai stimulator pertahanan tanaman dan agen fungisida/bakterisida langsung. Ini adalah referensi dasar untuk memahami mengapa fosfit berbeda dari fosfat biasa.
Jurnal 2: Efek Terhadap Patogen Spesifik
Judul: The effects of phosphite on plant diseases
Penulis: Guest, D. I., & Grant, B. R. (1991).
Intisari: Penelitian klasik yang mendeskripsikan bagaimana asam fosfit mengganggu metabolisme fosfor pada patogen, yang mengakibatkan perubahan pada dinding sel dan membran sel mikroba, sehingga pertumbuhan mereka terhenti.
Jurnal 3: Aplikasi pada Bakteri dan Oomycetes
Judul: Potassium phosphite restricts the development of bacterial diseases in various crops
Penulis: (Berbagai studi kasus lokal dan internasional sering menggunakan judul serupa).
Intisari: Fokus pada penggunaan kalium fosfit (turunan asam fosfit) dalam menekan serangan bakteri seperti Pseudomonas dan Xanthomonas pada tanaman hortikultura.
3. Perbedaan Kimiawi yang Signifikan
Dalam jurnal-jurnal tersebut, sering ditekankan perbedaan antara fosfat dan fosfit:
| Karakteristik | Asam Fosfat (H3PO4) | Asam Fosfit (H3PO3) |
| Bentuk Ion | Fosfat (PO4{3-) | Fosfit (PO3{3-) |
| Fungsi Utama | Nutrisi/Pupuk (Energi ATP) | Biostimulan / Pestisida |
| Efek Antimikroba | Rendah/Tidak Ada | Tinggi |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar