Anjing Tanah (Orong-orong): Ancaman Senyap bagi Pertanaman Padi
Anjing tanah, atau yang dikenal dengan nama ilmiah orong-orong (Gryllotalpa orientalis), merupakan salah satu hama yang seringkali luput dari perhatian hingga kerusakannya menjadi signifikan. Serangga dari famili Gryllotalpidae dan ordo Orthoptera ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah permukaan tanah, menjadikannya ancaman senyap terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman padi.
Mengenal Anjing Tanah
Orong-orong memiliki ciri khas tubuh silindris dan tungkai depan yang besar, menyerupai sekop, yang sangat efektif untuk menggali liang di dalam tanah. Meskipun secara umum orong-orong bersifat omnivora (pemakan segala), mereka akan memakan akar, umbi, atau bagian pangkal batang tanaman muda ketika sumber makanan utamanya (seperti larva serangga lain atau cacing) berkurang.
Hewan ini aktif pada malam hari (nokturnal) dan sangat tertarik pada cahaya lampu. Mereka menyukai kondisi lahan yang tidak tergenang air atau lahan kering yang lembap. Sawah yang sering dikeringkan (misalnya untuk menghindari keong emas) atau lahan sawah pasang surut dapat menjadi habitat ideal bagi orong-orong.
Gejala dan Dampak Serangan pada Padi
Serangan orong-orong sering terjadi pada tanaman padi muda, mulai dari fase persemaian hingga fase vegetatif awal. Gejala kerusakan yang ditimbulkan meliputi:
Pemotongan Pangkal Batang: Hama ini memotong tanaman pada pangkal batang yang berada di bawah atau sedikit di atas permukaan tanah. Kerusakan ini sering dikira sebagai serangan penggerek batang.
Kerusakan Akar Muda: Orong-orong merusak dan memakan akar-akar muda tanaman padi.
Tanaman Layu dan Mati: Akibat pemotongan batang dan rusaknya perakaran, tanaman padi yang terserang akan menunjukkan gejala layu dan akhirnya mati. Jika serangan meluas, hal ini dapat menyebabkan kekosongan populasi tanaman di petak sawah.
Liang di Permukaan Tanah: Aktivitas penggalian dan pembuatan liang oleh orong-orong juga dapat mengganggu struktur tanah dan menekan pertumbuhan akar.
Dalam kondisi serangan parah atau outbreak, kerugian hasil panen akibat hama ini bisa sangat merugikan petani.
Strategi Pengendalian yang Efektif
Pengendalian orong-orong harus dilakukan secara terpadu, menggabungkan beberapa metode untuk menekan populasi secara maksimal:
1. Pengendalian Kultur Teknis (Pencegahan)
Penggenangan Lahan: Salah satu cara paling efektif di lahan sawah adalah menjaga agar lahan tergenang air secara merata selama 5 hingga 7 hari sebelum penanaman bibit. Penggenangan air dapat membunuh telur dan nimfa orong-orong di dalam tanah, sekaligus memaksa hama dewasa untuk berpindah ke pematang.
Pengolahan Tanah Intensif: Pembajakan atau pengolahan tanah secara intensif dapat membantu merusak liang, telur, dan nimfa hama di dalam tanah.
Sanitasi Lahan: Menjaga kebersihan pematang dari gulma dapat mengurangi tempat persembunyian orong-orong.
2. Pengendalian Mekanis
Penangkapan Manual: Petani dapat menangkap dan memusnahkan orong-orong saat pengolahan lahan atau pada malam hari ketika hama aktif dan terlihat.
Perangkap Lampu: Memanfaatkan sifat orong-orong yang tertarik pada cahaya, perangkap lampu dapat dipasang pada malam hari untuk menangkap hama dewasa, sehingga mengurangi populasi dan potensi reproduksi.
3. Pengendalian Biologis dan Umpan
Musuh Alami: Memanfaatkan predator alami orong-orong seperti burung, ayam, laba-laba, atau parasitoid.
Umpan Beracun: Umpan beracun yang terdiri dari campuran dedak beras (karir), gula merah, dan insektisida tertentu (misalnya, sodium fluosilicate atau insektisida lain yang dianjurkan) yang dibentuk menjadi pasta, kemudian disebar di sekitar area pertanaman pada sore hari.
4. Pengendalian Kimiawi
Aplikasi Insektisida: Insektisida berbahan aktif seperti karbofuran, diazinon, fipronil. atau imidakloprid dapat diaplikasikan saat tanam atau pada pangkal batang tanaman yang terserang. Penggunaan insektisida harus bijaksana dan sesuai dosis untuk menghindari dampak negatif terhadap lingkungan.
Pestisida Nabati: Alternatif yang ramah lingkungan adalah penggunaan pestisida nabati dari bahan seperti kulit jengkol, tembakau, atau akar tuba (jenu), yang disemprotkan secara merata ke lahan.
Kesimpulan:
Anjing tanah atau orong-orong merupakan hama yang memerlukan perhatian serius, terutama di awal musim tanam padi. Dengan mengkombinasikan metode pengendalian mulai dari penggenangan, penangkapan mekanis, hingga penggunaan umpan atau insektisida yang tepat, petani dapat secara signifikan menekan populasi hama ini dan melindungi hasil panen padi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar