Kamis, 08 Januari 2026

Dendam Kesumat Karyawan Keparat (Bagian 1)

 




Suara ledakan di atas plafon rumah Kang Sarmin bukan lagi sekadar gangguan, melainkan teror yang mengoyak kewarasan. Setiap kali bola api merah itu menghantam genting, bau belerang bercampur amis darah menyeruak masuk melalui ventilasi.

Di sudut gelap sebuah gubuk tua, Dukun teluh suruhan Jarot—mantan karyawan Kang Sarmin yang dipecat karena ketahuan mencuri mesin pompa—sedang merayap di tanah seperti reptil. Jarot duduk di samping sang dukun, wajahnya pucat namun matanya berkilat penuh dendam yang dangkal.

"Kenapa belum mati juga, Mbah? Saya bayar mahal supaya dia mampus!" gerutu Jarot dengan nada bodohnya yang khas.

Sang dukun meludah ke arah kemenyan yang membara. "Bentengnya bukan sembarang tumbal. Dia pakai doa dan amalan leluhur. Tapi tenang, kalau pintu depan terkunci, kita masuk lewat 'jalur belakang'."


Teror yang Berubah Wujud

Malam itu, ledakan di atas rumah Kang Sarmin tiba-tiba berhenti. Hening yang tercipta justru jauh lebih mencekam. Kang Sarmin yang sedang mendekap tasbih di ruang tengah merasakan suhu ruangan merosot tajam hingga napasnya beruap.

Tiba-tiba, dari balik tembok dapur, terdengar suara garukan kuku yang memilukan. Srek... srek... srek...

Bukan lagi bola api, kali ini sang dukun mengirimkan "Banaspati Goblok". Jarot, dalam kebodohannya, bersedia memberikan tetesan darah dari ibu jarinya sendiri untuk memperkuat kiriman itu tanpa tahu bahwa nyawanya kini terikat.

Kang Sarmin melihat pemandangan mengerikan:

  1. Dinding rumah mulai mengeluarkan nanah hitam.

  2. Bayangan hitam besar tanpa kepala berdiri di pojok ruangan, memegang kepala yang wajahnya mirip sekali dengan Jarot yang sedang menyeringai.

  3. Suara bisikan yang terus mengulang satu kalimat: "Gaji saya mana... gaji saya mana..." padahal Jarotlah yang berutang pada perusahaan.


Puncak Pembalasan

Ledakan terakhir terdengar sangat dahsyat hingga kaca jendela pecah. Namun, kali ini api itu tidak meledak di atas rumah, melainkan memantul kembali seperti bola tenis yang dipukul keras. Kang Sarmin berdiri, menghentakkan kaki ke lantai tiga kali sambil merapalkan ayat kursi dengan suara menggelegar.

"Baliklah kepada tuanmu!" teriak Kang Sarmin.

Cahaya merah itu melesat secepat kilat kembali ke arah gubuk sang dukun. Di sana, Jarot yang sedang asyik merokok kaget melihat bola api raksasa menuju ke arahnya.

"Mbah! Itu apa?!" teriak Jarot panik. "Goblok! Itu kiriman kita balik!" sang dukun mencoba kabur, namun terlambat.

Gubuk itu meledak. Bukan oleh api biasa, tapi oleh api biru yang membakar jiwa. Jarot ditemukan esok harinya dalam keadaan kaku. Tubuhnya utuh, namun seluruh kulitnya berubah menjadi hitam legam seperti arang, sementara matanya melotot menatap langit dengan ekspresi ketakutan yang abadi.

Kang Sarmin hanya menghela napas panjang saat mendengar kabar kematian mantan karyawannya itu. "Dendam itu berat, apalagi kalau dibawa oleh hati yang kosong dan otak yang dangkal."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teballo Red – Perlindungan Hama Penghisap dengan Daya Tembus dan Daya Tahan Superior

  Inovasi Formulasi: Teballo Red – Perlindungan Hama Penghisap dengan Daya Tembus dan Daya Tahan Superior Pengendalian hama penghisap sepert...