Bahaya Fenomena Resistensi Hama: Ketika Wereng, Walang Sangit, dan Penggerek Menjadi "Kebal"
Dalam dunia pertanian, fenomena resistensi hama adalah kondisi di mana populasi hama yang sebelumnya bisa dikendalikan oleh dosis tertentu suatu insektisida, kini tidak lagi mati dan justru terus berkembang biak. Ibarat antibiotik yang tidak lagi mempan melawan bakteri, insektisida yang digunakan terus-menerus dengan cara yang salah hanya akan menciptakan "super-hama".
Penggunaan secara berulang dengan bahan aktif yang sama hanya akan meningkatkan kekebalan hama yang meminta petani untuk selalu meningkatkan dosis dan takaran setiap kali musim penyemprotan.
Berikut adalah analisis fenomena resistensi pada tiga hama utama padi:
1. Wereng Batang Coklat (WBC): Si Ratu Resistensi
Wereng adalah salah satu hama yang paling cepat beradaptasi.
Penyebab: Penggunaan bahan aktif seperti Imidakloprid atau Sipermetrin (golongan Piretroid) secara terus-menerus.
Efek Resurjensi: Insektisida tertentu justru membunuh predator alami (seperti laba-laba) tetapi tidak mematikan semua wereng. Wereng yang tersisa mendapatkan asupan nutrisi lebih banyak dari tanaman yang subur dan meledak jumlahnya secara eksponensial.
Solusi: Gunakan bahan aktif Buprofezin contohnya : merk dagang Buprosida 100 EC untuk memutus siklus hidup (sterilisasi telur)
2. Walang Sangit: Kebal karena "Bau" yang Sama
Walang sangit sering menyerang pada fase generatif (padi berbunga/susu).
Penyebab: Petani cenderung menggunakan insektisida berbau menyengat (seperti golongan Organofosfat) berkali-kali. Karena siklus hidupnya yang mobile (terbang), walang sangit yang terpapar dosis rendah (sub-letal) akan menurunkan gen kekebalan pada keturunannya. Beberapa insektisida yang di kenal dengan baunya yang tajam misalkan: bahan aktif Dimetoat, atau fenthion
Gejala Resistensi: Walang sangit tetap hinggap dan menghisap bulir padi meskipun sawah baru saja disemprot dengan dosis tinggi.
Solusi: Rotasi bahan aktif. Jika sebelumnya menggunakan kontak, beralihlah ke sistemik yang mampu bertahan di dalam bulir. Penggunaan BPMC seperti Sidabas 500 EC dan Dimehipo seperti Sidatan XR 525 SL dapat digunakan bergantian untuk untuk mencegah resistensi ini.
3. Penggerek Batang: Musuh dalam Selimut
Resistensi pada penggerek batang (Scirpophaga incertulas) sering terjadi karena kesalahan target.
Penyebab: Penggunaan insektisida kontak secara berlebihan untuk membunuh ulat yang sudah berada di dalam batang. Karena ulat tidak terkena racun secara langsung, populasi yang selamat akan beradaptasi.
Bahaya Salah Obat: Penggunaan bahan aktif keras seperti Triazofos pada padi sering memicu resistensi dan resurjensi pada hama penyerta (wereng).
Solusi: Gunakan teknologi Ovisida (Pembeku Telur) seperti Fipronil seperti Fipros 55 SC yang bekerja secara sistemik untuk memutus rantai serangan sebelum larva masuk ke dalam batang.
Strategi Mencegah Resistensi (Manajemen Hama Terpadu)
Agar hama tidak menjadi kebal, petani wajib menerapkan strategi Rolling Bahan Aktif:
Gunakan Konsep MoA (Mode of Action): Jangan mencampur atau mengganti obat yang memiliki cara kerja yang sama. Contoh: Jika sudah memakai Dimehipo seperti SIdatan XR 525 SL, jangan ganti dengan Kartap Hidroklorida (karena keduanya bekerja pada reseptor yang mirip).
Jangan Over-Dosis: Menaikkan dosis di atas label hanya akan mempercepat seleksi alami hama yang kebal.
Manfaatkan Ovisida (Pembeku Telur): Matikan hama di fase telur. Telur tidak bergerak dan tidak bisa menghindar, sehingga penggunaan ovisida seperti Buprofezin seperti merk Buprosida dan Fipronil seperti Fipros 55 SCsangat efektif memutus generasi yang berpotensi resisten.
Kombinasi Kontak & Sistemik:
Kontak: Untuk mematikan hama dewasa yang terlihat (ngengat/walang sangit).
Sistemik: Untuk mematikan larva di dalam jaringan tanaman dan membekukan telur.
Daftar Pengelompokan Insektisida & Target Sasaran
| Golongan (MoA) | Bahan Aktif | Contoh Merek Dagang | Target Utama | Efek Terhadap Telur |
| Grup 28 (Diamida) | Klorantraniliprol | Prevathon, Virtako | Penggerek Batang, Ulat | Sangat Kuat (Ovisida) |
| Grup 2 (Fiprole) | Fipronil | Fipros 55 SC | Penggerek, Wereng, Walang Sangit | Kuat (Ovi-Larvisida) |
| Grup 16 (IGR) | Buprofezin | Buprosida 100 EC | Wereng, Kutu-kutuan | Kuat (Hanya Wereng) |
| Grup 14 (Nereistoksin) | Dimehipo / Bisultap | Sidatan XR 525 SL | Penggerek Batang | Sedang (Larvisida) |
| Grup 4 (Neonikotinoid) | Imidakloprid / Mospilan | TOpdor 10 WP, Vendor 212 SL | Wereng, Walang Sangit | Rendah |
| Grup 9 (Pymetrozine) | Pimetrozin | Plenum | Wereng (Spesialis) | Rendah (Hanya Steril) |
Panduan Mixing & Rolling (Anti-Resistensi)
1. Aturan "Jangan Campur Saudara"
Jangan mencampur dua bahan aktif dari grup MoA yang sama dalam satu tangki.
SALAH: Mencampur Dimehipo dengan Kartap (Keduanya Grup 14).
BENAR: Mencampur Fipronil (Grup 2) dengan Klorantraniliprol (Grup 28).
2. Strategi Rolling (Rotasi) Berdasarkan Fase
Lakukan pergantian golongan setiap 2 kali penyemprotan untuk mencegah hama beradaptasi.
Fase Vegetatif (15-30 HST): Fokus pada pencegahan Sundep.
Rekomendasi: Gunakan Fipronil merk Fipros 55 SC atau Dimehipo merk Sidatan XR 525 SL.
Puncak Penerbangan Ngengat: Saat terlihat banyak kupu-kupu putih.
Rekomendasi: Gunakan Klorantraniliprol (Pembeku Telur) untuk perlindungan jangka panjang.
Fase Generatif (Keluar Malai): Fokus pada Walang Sangit & Wereng.
Rekomendasi: Gunakan Buprofezin merk Buprosida 100 EC (untuk telur wereng) dicampur dengan bahan kontak untuk Walang Sangit.
Rekomendasi "Mix" Aman & Legal (Khusus Padi)
Jika Anda ingin menggabungkan beberapa bahan aktif di atas dalam satu tangki, berikut adalah kombinasi yang paling disarankan:
Kombinasi A (Total Control): Prevathon (Klorantraniliprol) + Fipros 55 SC (Fipronil).
Manfaat: Perlindungan telur paling maksimal dan efek tanaman hijau (fitotonik).
Kombinasi B (Ulat + Wereng): Prevathon (Klorantraniliprol) + Buprosida (Buprofezin).
Manfaat: Mematikan telur penggerek batang sekaligus mematikan telur/nimfa wereng coklat.
Kombinasi C (Ekonomis): Sidatan 525 SL (Dimehipo) + Fipros 55 SC (Fipronil).
Manfaat: Cukup kuat untuk mematikan larva yang sudah terlanjur masuk ke batang dan mengendalikan walang sangit.
Berikut adalah beberapa golongan bahan aktif insektisida yang telah terbukti memiliki tingkat resistensi tinggi di berbagai wilayah:
1. Golongan Piroid (Pyrethroids)
Ini adalah golongan yang paling banyak mengalami kasus resistensi karena penggunaannya yang sangat masif, baik di lahan pertanian maupun untuk pengendalian nyamuk (seperti DBD).
Bahan Aktif: Deltametrin, Sipermetrin, Lamda-sialotrin, Permetrin.
Target: Hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda), kutu kebul, dan nyamuk Aedes aegypti.
Status: Banyak dilaporkan sudah tidak mempan lagi (terutama pada dosis standar) di berbagai sentra sayuran.
Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Yang selama ini palng umum dipakai petani sebagai pencampur adalah Sidamethrin 50 EC atau Yasithrin 30 EC yang di kenal ampuh dengan harga terjangkau.
2. Golongan Organofosfat
Golongan "pemain lama" ini telah digunakan selama puluhan tahun, yang memberikan waktu cukup bagi serangga untuk beradaptasi.
Bahan Aktif: Klorpirifos, Profenofos, Metidation.
Target: Kutu daun, ulat, dan penggerek batang.
Status: Di beberapa daerah, Profenofos mulai kehilangan taji terhadap ulat grayak karena penggunaan yang berlebihan tanpa rotasi.
Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Yang paling umum digunakan adalah kombinasi Klorpirifos dengan Sipermethrin seperti merk Permifos 500/50 EC kombinasi klorpirifos 500 g/l dengan Sipermethrin 50 g/l.
3. Golongan Neonikotinoid
Sering digunakan sebagai perlakuan benih atau semprotan sistemik. Karena sifatnya yang sistemik dan bertahan lama di jaringan tanaman, serangga penghisap cepat beradaptasi.
Bahan Aktif: Imidakloprid, Tiametoksam.
Target: Wereng cokelat (Nilaparvata lugens), kutu kebul.
Status: Wereng cokelat di beberapa wilayah Asia Tenggara telah menunjukkan resistensi tingkat tinggi terhadap Imidakloprid.
Berbeda dengan kedua saudaranya kendati Nitenpiram juga termasuk dalam golongan Neonikotinoid (Group 4A), Nitenpiram adalah bahan aktif yang menarik karena posisinya yang unik di pasar. Poin krusial yang membedakan Nitenpiram dalam hal efikasi dan risiko resistensinya.
1. Keunggulan: Efek "Knockdown" yang Instan
Berbeda dengan saudaranya (Imidakloprid) yang bekerja agak lambat secara sistemik, Nitenpiram dikenal karena efek kontak yang sangat cepat.
Kecepatan: Sering disebut sebagai "racun kilat". Serangga yang terkena biasanya akan langsung jatuh dan mati dalam hitungan menit hingga jam.
Kelarutan: Sangat mudah larut dalam air dan cepat diserap jaringan tanaman, sehingga sangat efektif untuk mematikan hama yang sedang menghisap cairan tanaman.
2. Status Resistensi Nitenpiram
Sejauh ini, Nitenpiram masih relatif efektif dibandingkan Imidakloprid, namun mulai menunjukkan tanda-tanda peringatan:
Resistensi Silang (Cross-Resistance): Ini adalah ancaman terbesar. Karena Nitenpiram berada dalam golongan yang sama dengan Imidakloprid (4A), ada risiko besar jika wereng sudah kebal terhadap Imidakloprid, mereka juga akan lebih cepat kebal terhadap Nitenpiram.
Penggunaan Spesifik: Di Indonesia, Nitenpiram masih menjadi "senjata andalan" petani padi untuk mengendalikan Wereng Batang Coklat (WBC) saat terjadi ledakan populasi, karena kemampuannya menurunkan populasi secara drastis dalam waktu singkat.
Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain. Di pasaran telah dikenal merk insektisida berbahan aktif nitenpiram yang telah ditingkatkan kemampuannya untuk menghindari resistensi ini dengan merk dagang "Teballo Red"
4. Golongan Diamida (Anthranilic Diamides)
Meskipun tergolong lebih modern, golongan ini mengalami "ledakan" resistensi yang sangat cepat karena efikasinya yang sangat tinggi di awal kemunculannya membuat petani menggunakannya terus-menerus.
Bahan Aktif: Klorantraniliprol (Prevathon), Flubendiamid.
Target: Ulat grayak (Spodoptera), ulat penggerek polong.
Status: Kasus resistensi Spodoptera frugiperda terhadap Klorantraniliprol sudah terdeteksi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Selama ini petani selalu meningkatkan dosis ataupun dengan melakukan pencampuran dengan bahan aktif yang lain.
Perbandingan Karakteristik Resistensi
| Golongan | Kecepatan Resistensi | Penyebab Utama |
| Piretroid | Sangat Cepat | Penggunaan rutin & residu lama |
| Neonikotinoid | Sedang - Cepat | Penggunaan sistemik terus-menerus |
| Diamida | Sangat Cepat | Tidak ada rotasi bahan aktif |
| Organofosfat | Lambat - Sedang | Penggunaan jangka panjang (puluhan tahun) |
Strategi Mengatasi Resistensi
Agar insektisida tetap efektif, sangat disarankan untuk menerapkan Manajemen Resistensi Insektisida (IRM):
Rotasi Bahan Aktif: Jangan gunakan bahan aktif dari golongan (MOA - Mode of Action) yang sama secara berturut-turut.
Gunakan Dosis Sesuai Label: Dosis rendah (sub-lethal) justru mempercepat seleksi individu yang tahan.
Penerapan PHT: Kombinasikan dengan pengendalian hayati (musuh alami) atau perangkap fisik.
Catatan Penting: Jika suatu bahan aktif sudah resisten di satu lahan, bukan berarti bahan tersebut tidak berguna sama sekali di tempat lain. Resistensi seringkali bersifat lokal atau regional tergantung sejarah penyemprotan di wilayah tersebut.
Kesimpulan
Fenomena resistensi bukan salah hamanya, melainkan pola penggunaan insektisida yang monoton. Dengan memahami cara kerja bahan aktif seperti Buprofezin = Buprosida (untuk wereng) dan Fipronil = Fipros (untuk penggerek), petani dapat mengendalikan hama secara bijak, hemat biaya, dan menjaga ekosistem sawah tetap seimbang.
Penggunaan bahan aktif dengan pola kerja yang berbeda seperti menghambat nafsu makan/ memandulkan, menghancurkan embrio atau memanipulasi lapisan kulit hama juga dapat di gunakan sebagai altrnatif pencegah resistensi akibat kebanyakan produk sistem kontak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar