Coba amati hasil efikasi beberapa bahan aktif dalam memberikan perlindungan tanaman dari serangan hama di atas. Benih yang dilakukan treatment menggunakan masing-masing bahan akti dilakukan penanaman di lahan dan diamati tingkat serangan yang datang. Dari pengamatan di peroleh hasil bahwa hingga hari ke 36, benih yang dilakukan treatment menggunakan thiametoksam masih aman dari serangan hingga mencapai 93,7 -97,48%, hasil yang sama juga diperoleh dari hasil klotianidin 96 -97%.
Berdasarkan data penelitian yang Anda unggah dan sumber ilmiah terkait, perbandingan efektivitas antara perlakuan benih (seed treatment) dan penyemprotan daun (foliar spray) untuk bahan aktif Thiametoksam dapat dirangkum sebagai berikut:
Efektivitas Berdasarkan Cara Aplikasi
Secara teknis, perlakuan benih (seed treatment) dengan Thiametoksam seringkali dianggap lebih efektif dan efisien untuk perlindungan fase awal tanaman karena beberapa alasan yang didukung oleh data penelitian tersebut:
Perlindungan Dini yang Stabil: Data menunjukkan bahwa aplikasi pada benih (sebagaimana diuji dalam jurnal tersebut) memberikan efikasi kontrol yang sangat tinggi, mencapai 97.48% pada 36 hari setelah tanam (36 DAS).
Ketahanan Jangka Panjang: Dengan perlakuan benih, zat aktif terserap secara sistemik ke seluruh jaringan tanaman sejak berkecambah, sehingga melindungi tanaman dari dalam selama lebih dari sebulan tanpa perlu penyemprotan berulang di awal pertumbuhan.
Efisiensi Dosis: Perlakuan benih menggunakan jumlah bahan aktif yang jauh lebih sedikit per hektar dibandingkan penyemprotan daun, namun memberikan hasil kontrol yang setara atau bahkan lebih baik terhadap hama pengisap seperti Thrips.
Perbandingan Visual
| Fitur | Perlakuan Benih (Seed Treatment) | Penyemprotan Daun (Foliar Spray) |
| Waktu Perlindungan | Melindungi sejak hari ke-1 saat benih tumbuh. | Melindungi hanya setelah ada daun yang tumbuh dan disemprot. |
| Efisiensi | Sangat tinggi, tidak terpengaruh air hujan atau angin. | Berisiko tercuci air hujan atau hilang karena penguapan. |
| Target Hama | Sangat efektif untuk hama awal musim (Thrips, Kutu, Wereng). | Lebih efektif untuk serangan hama yang terjadi mendadak di tengah musim. |
| Dampak Lingkungan | Lebih rendah karena aplikasi terfokus pada benih. | Lebih tinggi karena residu bisa menyebar ke tanah dan serangga penyerbuk. |
Kesimpulan untuk Pemasaran
Jika Anda memasarkan Thiametoksam cair, Anda bisa mengedukasi petani bahwa produk Anda bisa digunakan untuk dua fungsi:
Sebagai Perlakuan Benih: Untuk mencegah serangan hama sejak dini (proteksi 30-40 hari pertama).
Sebagai Spray: Untuk tindakan penyelamatan (curative) jika terjadi ledakan hama di lapangan.
Panduan Praktis Perlakuan Benih dengan Thiametoksam
Lindungi Tanaman Sejak Hari Pertama!
Berdasarkan penelitian, penggunaan Thiametoksam pada benih jauh lebih efektif karena zat aktif langsung meresap ke dalam jaringan tanaman dan melindunginya dari dalam hingga 36 hari setelah tanam.
Keunggulan Perlakuan Benih (Dibanding Semprot):
Proteksi Dini: Tanaman sudah kebal terhadap Thrips, Kutu, dan Wereng sejak baru tumbuh.
Lebih Stabil: Tidak hilang tercuci air hujan atau terkena sinar matahari, berbeda dengan aplikasi semprot.
Efisiensi Tinggi: Tingkat keberhasilan pengendalian hama mencapai 97.48% (lebih tinggi dan stabil dibandingkan metode lain).
Hemat Biaya: Mengurangi frekuensi penyemprotan di awal musim tanam.
Cara Aplikasi yang Benar:
Siapkan Benih: Pastikan benih dalam kondisi kering dan bersih.
Dosis Penggunaan: Gunakan takaran sesuai hasil riset untuk hasil maksimal (Dosis 2 dalam tabel menunjukkan efikasi stabil di angka 88-97%).
Pencampuran:
Campurkan Thiametoksam cair dengan sedikit air (cukup untuk membasahi permukaan benih saja).
Masukkan benih ke dalam plastik atau wadah tertutup.
Kocok perlahan hingga warna cairan menyelimuti benih secara merata.
Pengeringan: Angin-anginkan benih di tempat teduh (jangan di bawah matahari langsung) hingga kering sebelum ditanam.
Penggunaan pada Kentang
Sangat Dianjurkan. Tiametoksam sering digunakan sebagai perlakuan umbi bibit kentang.
Fungsi: Melindungi tanaman muda dari serangan kutu daun (aphids), kutu kebul, dan hama tanah sejak dini.
Cara Aplikasi: Larutan insektisida disemprotkan secara merata ke umbi bibit sebelum ditanam atau umbi dicelupkan sebentar (tergantung formulasi).
Penggunaan pada Bawang Merah
Bisa, namun jarang disebut "Seed Treatment". Pada bawang merah, istilahnya lebih sering disebut perlakuan umbi bibit.
Fungsi: Untuk mencegah serangan hama pengisap dan sebagai perlindungan sistemik di awal pertumbuhan.
Catatan Penting: Penggunaan tiametoksam pada bawang merah lebih sering dilakukan melalui metode penyiraman/kocor pada lubang tanam atau penyemprotan foliar (daun). Jika digunakan untuk perlakuan umbi, pastikan konsentrasinya tepat agar tidak mengganggu proses pertunasan.
Keunggulan Tiametoksam untuk Perlakuan Benih/Umbi:
Sistemik Kuat: Bahan aktif diserap oleh benih/umbi dan didistribusikan ke seluruh jaringan tanaman yang baru tumbuh.
Vigor Effect: Tiametoksam dikenal memiliki efek memicu pertumbuhan tanaman sehingga tanaman tampak lebih hijau dan kokoh di awal fase vegetatif.
Perlindungan Dini: Mengurangi frekuensi penyemprotan di awal tanam, yang berarti lebih hemat biaya tenaga kerja.
Peringatan: Pastikan untuk selalu membaca dosis yang tertera pada label kemasan Sidathiam, karena kelebihan dosis pada perlakuan benih/umbi dapat bersifat fitotoksik (menghambat pertumbuhan tunas).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar