Alkisah di sebuah warung kopi pinggir sawah, berkumpullah lima "pendekar" pembasmi hama wereng. Mereka sedang meratapi nasib sawah mereka yang sedang dikepung tentara wereng cokelat yang makin hari makin ngelunjak.
Suasana mendadak riuh saat mereka memperdebatkan siapa yang punya jurus (baca: pestisida) paling hebat, dari yang cuma bikin mandul sampai si raja knockdown!
1. Mbah Citro: Sang Penumpas Masa Depan "Buprofezin" (Buprosida)
Mbah Citro, petani paling senior, membuka obrolan sambil menepuk meja.
"Kalian semua heboh nyemprot wereng yang udah terbang. Lah saya? Fokus ke masa depan! Saya pakai Buprofezin!"
"Lah, emang gunanya buat apa, Mbah?" tanya petani lain. "Buat ngebekuin telur-telur wereng! Jadi sebelum mereka menetas dan bikin dinasti di sawah saya, telurnya udah jadi es mambo duluan. Dijamin gagal total jadi sarjana wereng!" kata Mbah Citro bangga. Tapi sayangnya, wereng yang telanjur dewasa cuma bisa nonton sambil tetep asyik ngisap batang padi.
2. Cak Masduki: Jagoan Ngotot "BPMC"
Cak Basuki nggak mau kalah, dia maju sambil memijat pinggangnya yang mulai encok.
"Halah, kelamaan nunggu telur beku! Pakai BPMC kayak punya saya dong! Murah meriah muntah!"
Pak RT langsung menyahut, "Murah sih murah, Bas. Tapi kamu kemarin nyemprot sampai lima kali seminggu, kan? Itu nyemprot sawah apa lagi latihan marathon? Murah di dompet, tekor di koyo cabai!" Cak Basuki hanya bisa nyengir menahan linu di punggungnya akibat menggendong tangki bolak-balik.
3. Mas Muji: Sang Terapis "Pymetrozine"
Mas Muji, petani yang kalem dan agak sadis, ikutan senyum-senyum misterius.
"Kalau saya sih nggak suka yang kasar-kasar. Saya pakai Pymetrozine. Harga lumayan, tapi efeknya elegan."
"Begitu wereng-wereng itu kena semprot, mereka langsung ngalamin gejala mogok makan. Mulutnya terkunci! Jadi, mereka nggak mati karena racun instan, tapi mati kelaparan sambil mandangin padi saya. Menyiksa secara psikologis!" Ujar Mas Muji. Tapi ya itu, matinya lama, Mas Muji-nya yang keburu gemas nungguin.
4. Sultan Sukro: Juragan Elit "Triflumezopyrim"
Tiba-tiba terdengar suara dehaman berat dari pojok warung. Itu Pak Sukro, petani paling kaya se-kecamatan.
"Haduh, hari gini masih mikirin encok dan diet wereng? Nih, pakai ramuan Sultan, Triflumezopyrim!"
"Harganya memang bikin dompet langsung kena serangan jantung dan menguras tabungan istri," bisik Pak Sukro gaya. "Tapi efeknya mantap dan tahan lama! Wereng baru lahir di sawah tetangga aja langsung minder mau mampir." Tapi ya itu, habis beli obat ini, Pak Sukro langsung makan mi instan sebulan penuh karena dompetnya kurus kering.
5. Kang Nandar: Sang Juara Sejati "Nitenpiram"
Nah, ini dia juaranya. Kang Nandar menyeruput kopinya dengan santai, lalu mengeluarkan botol Nitenpiram bak piala Citra. Semua petani langsung terdiam.
"Minggir, minggir... Ini baru ramuan paling hebat tiada tanding: Nitenpiram!"
"Harga? Ramah banget di kantong, gak bikin miskin kayak punya Pak Sukro! Capek? Nggak usah bolak-balik nyemprot kayak Cak Basuki! Begitu kena semprot, efek knockdown-nya super kuat! Wereng langsung jempalit, kejang-kejang, dan pingsan berjamaah seketika di tempat. Udah gitu, efek perlindungannya tahan lama banget!" pamer Kang Nandar.
Sawah Kang Nandar langsung bersih seketika, dompetnya tetap tebal, dan pinggangnya tetap sehat sentosa. Wereng-wereng di sawah sebelah bahkan kabarnya langsung bikin surat wasiat begitu dengar nama Nitenpiram.
Kesimpulan Rapat Warung Kopi
Akhirnya, pemilik warung kopi memberikan keputusan mutlak: "Sudah jelas, pemenangnya Kang Nandar dengan Nitenpiram-nya! Murah, cepat tumbang, dan tahan lama. Yang lain silakan pulang... Cak Basuki silakan beli koyo, dan Pak Sukro silakan lanjut makan mi instan!"
Para petani pun tertawa bersama, mengakui kehebatan si Nitenpiram sang penakluk wereng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar