Kamis, 10 November 2022

Arborisida Jotos 490 EC untuk Gulma Anakan Kayu









Selama ini mungkin banyak yang sudah mengenal herbisida sistemik dan herbisida kontak semisal glifosat dan parakuat. 

Bagaimana dengan Herbisida jenis Arborisida?

Mungkin ada yang mengenal istilah anakan kayu. Jenis gulma yang cenderung dominan dengan batang keras dan berkayu. Jenis gulma ini lebih susah ditanggulangi karena cenderung memiliki permukaan batang yang keras dan berakar lebih kuat. 

Kalau merk yang beredar di pasaran diperjual belikan dengan bahan aktif Triklopir. Merk yang sudah banyak dikenal semisal Garlon, Starlon, Biolon dll. Kalau kelebihan arborisida ini memiliki kemampuan menembus lapisan kulit keras gulma. Untuk pengaplikasiannya bisa diaplikasikan tunggal atau dapat pula dengan mencampurkannya dengan herbisida jenis lain.

JOTOS 490 EC. Merk dagang arborisida produksi Petrosida Gresik yang menjadi salah satu pelengkap herbisida yang dimiliki dengan bahan aktif triklopir. Aplikasi herbisida ini dapat digunakan dengan cara di spray, di injeksi, di kocor atau dikuaskan. Pemakaian kombinasi dengan glifosat ataupun parakuat akan meningkatkan efikasinya dan khusus untuk gulma yang berbatang keras/ berkambium dapat ditambahkan solar dengan perbandingan.

Jotos 490 EC merupakan produk andalan untuk mengendalikan Melastoma,Charomolaena, Borerria dan gulma berkayu lainnya.


Cara aplikasi arborisida ini cukup mudah: 

1.  Dispray 

   Dengan menyemprot gulma campuran, aplikasinya cukup campurkan kombinasi (100ml Sidafos 480 SL + 100ml Jotos 490 SL pada 15 liter air kemudian semprotkan pada gulma campuran (rumput,teki,pakis,anak kayu dll) di kebun anda/pekarangan rumah anda. 

  Kecepatan kematian gulma berkayu dapat ditingkatkan dengan melukai bidang semprotnya dengan parang biar memudahkn herbisida masuk. Cara ini mampu meningkatkan kecepatan kematian tanaman/gulma berkayu yang akan dieradikasi.



     Sistem kocoran 

     Untuk pohon/tanaman gulma keras dengan Larutkan 100 ml  Jotos 490 EC ini dengan air 1 liter kemudian siramkan pada pohon yang akan dibasmi. 


2.  Sistem oles/kuas 

   Untuk pohon/tanaman keras dengan kombinasi dengan solar: Untuk pohon besar, larutkan 100 ml Jotos 490 EC dengan 1 liter solar, kemudian buat lubang pada pohon/gores pohon sampai bertemu lapisan hijaunya/ xilem nya dan oleskan perlahan dengan campuran tersebut.

3.  

     Injeksi 

     Pohon disuntik dengan 10 ml larutan Jotos 490 EC dengan kedalaman 10-15 cm dari diameter batang pohon.

   Berdasarkan pengalaman, (cara suntik dan oles pada batang lebih efisien dalam penggunaan Jotos 490 EC dibandingkan disiram pada pohon). Kendati demikian kondisi kecepatan kematian juga menjadi pertimbangan jika menginginkan kematian lebih cepat. 


     "Salam Merdesa". 

    Petani Sejahtera Bangsa Berjaya.

    Bangga Jadi Petani

B


Jumat, 30 September 2022

Trichosida Bio Fungisida Fenomenal

 


Dalam budidaya pertanian, seringkali petani lebih mudah mengendalikan hama dan gulma dibandingkan penyakit. Kenapa bisa?

Penyakit tanaman pada penampakan bentuknya tidak bisa di amati fisiknya secara langsung tanpa menggunakan alat bantu. Adanya bentuk yang muncul dan menjadi sinyalemen atau pertanda lebih pada dampak atau akibat serangan penyakit tersebut. 

Beberapa penyakit penyebab tular tanah antara lain: 

Fusarium OxsporumRalstonia Solanacearum, Rizoctonia Solani,

Phytopthora Infestans dan lain-lain




Kalau disebut sebagai pengendalian memang lebih efektif dengan cara pencegahan dan hal itu tidak akan berhasil jika serangan telah melewati 30 (tigapuluh) persen.

Selama ini penggunaan fungisida kimia sering dijadikan solusi akhir akan tetapi semakin akhir penggunaan bahan kimia untuk mengatasi penyakit tanaman semakin tidak efektif. Ditambah lagi penggunaan fungisida kimia mengakibatkan resistensi dan meninggalkan residu yang susah dihilangkan.



Bagaimana solusinya?

Sebelum membicarakan solusi, perlu kita ketahui macam-macam penyakit tanaman.

Dalam dunia tanaman secara umum penyakit pada tanaman ada 3 macam..yaitu Jamur, Bakteri dan Virus. Untuk pengendalian makhluk tak kasat mata ini seringkali petani menggunakan antibiotik. Akan tetapi regulasi terbaru menyebutkan jika beberapa bahan kimia bersifat antibiotik dilarang digunakan pada tanaman. Hal ini disebabkan tingkat residu antibiotik seperti halnya pada hewan budidaya, pada tanaman juga akan menimbulkan residu atau akumulasi. Dampak jangka panjang adalah..."kanker" ya itu resikonya.


Bagaimana jika antibiotik diambil dari ekstraksi mikroba berupa enzim?

Bisa sih, hanya saja metode ini membutuhkan waktu yang lebih panjang dan butuh teknologi  lanjutan untuk menghasilkannya.

Solusi terbaik adalah dengan menambahkan mikroba bermanfaat untuk menekan pertumbuhan mikroba patogen. Apakah bisa?

Sangat bisa sekali jika di lingkungan sekitar kita kaya akan material organik. Mikroba patogen memang sangat berbahaya jika kondisinya mempengaruhi langsung ke tanaman. Bisa menurunkan kualitas hasil bahkan hingga menyebabkan kematian. Kalau di rata-rata  tingkat kerusakan akibat penyakit tanaman lebih berdampak besar  jika dibandingkan dengan kerusakan akibat hama. Kelemahannya lagi adalah serangan penyakit akan sangat suit dikendalikan jika sudah memasuki stadium lanjut. Jika paparan sudah lebih dari dua pulu persen maka akan sangat sulit mengatasinya. Kalau bisapun akan membutuhkan biaya  yang lebih besar dan sering tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh. 

Beberapa contoh penyakit yang berdampak besar semisal tungro pada tanaman padi bulai pada tanaman jagung atau layu fusarium pada kentang. Pada tanaman tahunan kita juga mengenal penyakit busuk buah  yang masih menjadi momok menakutkan dan penyebab kerugian besar dalam budidaya.

Kalau disebutkan pengendalian dengan bahan kimia sedikit banyak memang bisa mengatasi penyakit tanaman, akan tetapi resiko biaya dan dampak residu akan menjadi kendala lain.

Trichosida sebagai jenis fungisida bio akan memiliki keunggulan karena dia berasal dari 3 (tiga) jenis mikroba indigenous Indonesia yang memiliki  sifat menekan patogen dengan masing-masing keunggulannya. Bacillus sp sudah di kenal sebagai mikroba anti patogen handal dengan dikombinasikan Trichoderma sp yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Pada hasil terbaru, jenis Gliocladium sp memiliki kelebihan dan fungsi yang lebih kuat dibandingkan dengan trichoderma. 

Mungkin sebelumnya sudah ada beberapa produk mikroba yang dijual tunggal entah itu Bacillus sp, Trichoderma sp atau Gliocladium sp. Kalau di kombinasikan ? pasti hasilnya luar biasa...

"Trichosida, pada pengujian penyakit jamur akar putih (JAP)yang terkenal bandel pada tanaman karet sangat efektif berdasarkan pengujian di fase pembibitan polybag maupun tanaman di lahan. Pemberian 10 gram Trichosida per bibit dalam polybag yang bisa dicampurkan dengan pemberian pupuk organik atau dengan kocoran pengairannya sudah menunjukkan hasil pada aplikasi ke 3-4 dengan interval 7 harian.

Pemberian Trichosida sebagai langkah pencegahan pada pembibitan karet perlu ditempuh untuk mengurangi potensi tertular jamur akar putih ini. Khususnya di daerah-daerah pandemi penyakit ini perlu intensif dilakukan. Penambahan takaran antara 10-25 gram per polybag dapat menyesuaikan usia tanaman dan dapat di maksimalkan hingga 100 gram per pokok pohon pada tanaman di lahan langsung.

Kondisi pertumbuhan mikroba trichosida sangat tergantung pada ketersediaan material organik di sekitarnya sebagai media pertumbuhan. Untuk meningkatkan potensi perkembangbiakannya maka dipastikan kondisi tanah sekitar perakaran dalam posisi tidak kering dan tidak terlalu basah/ menggenang.

Bagaimana dengan penggunaan pada tanaman semusim?

Trichosida dapat digunakan dengan pencampuran pemberian pupuk organik pada persiapan media tanam atau dengan penaburan langsung di sekitar perakaran tanaman. Tanaman kentang dan bawang atau  cabai dan tomat dapat terhindar dari busuk akar dan busuk batang. Sekelas layu fusarium dan penyakit tular tanah lainnya sangat berbahaya jika tidak dikendalikan dan dengan penggunaan trichosida dengan interval 7-14 hari sangat membantu proteksi tanaman sehat dan penyembuhan tanaman yang sudah terserang penyakit. Pencampuran 3-5 gram/ kilo pupuk tabur cukup untuk perlindungan tanaman dan dapat pula diaplikasikan dengan melarutkan dengan air 3-5 gram/ liter air.

Pengalaman dari seorang petani cabai yang musim sebelumnya gagal total akibat tanamannya kena penyakit layu. Dari hasil pengaplikasian trichosida hingga saat ini petik yang ke delapan tanaman cabainya aman dan tidak ada satupun yang layu. Pada aplikasi kombinasi dengan pupuk sidanik cair makim mantab saja karena nampak daun tanaman lebih hijau segar dan lebar lebar. Jumlah bunga dan buah pun lebih lebat dan tidak mudah rontok.


Tertarik untuk mencoba bio fungisida ini?

Silahkan menghubungi petugas Petrosida Gresik setempat dan laksanakan metode demplot bersama jika memungkinkan.


SALAM MERDESA

Bangga Jadi Petani

Petani Sejahtera Bangsa Berjaya.


Baca Selanjutnya: Pupuk Mikroba Unggul Saptabio






KENALI MANFAAT ASAM PHOSPIT PADA PETROPHOS

A sam fosfit ( H3PO3 ) pada produk Petrophos memiliki kemampuan unik untuk merangsang pertumbuhan akar , meskipun perannya berbeda dengan pu...