Senin, 26 Januari 2026

Apakah Insektisida Dimehipo Masih Relevan di 2026? Simak Faktanya

 



(Analisis Efektivitas dan Strategi Penggunaannya)

Di tengah munculnya berbagai bahan aktif baru yang menawarkan teknologi mutakhir, nama Dimehipo tetap menjadi salah satu primadona di toko pertanian. Namun, di tahun 2026 ini, banyak petani mulai bertanya-tanya: Apakah insektisida golongan Nereistoxin ini masih ampuh menghadapi hama yang semakin resisten?

Dimehipo telah lama dikenal sebagai "senjata murah meriah" untuk mengendalikan hama penggerek batang (sundep/beluk) dan wereng. Mari kita bedah secara mendalam relevansinya bagi pertanian saat ini.

Mengenal Cara Kerja Dimehipo

Dimehipo adalah insektisida sistemik yang juga bekerja melalui kontak dan racun lambung. Bahan aktif ini sangat unik karena mampu terserap ke dalam jaringan tanaman. Artinya, ketika hama seperti larva penggerek batang memakan jaringan tanaman yang sudah terpapar, hama tersebut akan lumpuh dan mati.

Sifatnya yang translaminar memungkinkannya menembus jaringan daun hingga ke sisi bawah, tempat di mana hama sering bersembunyi. Inilah alasan mengapa merek-merek besar seperti Sidatan 410 SL, Spontan 400SL, Manuver 400SL, hingga Sidatan XR 525 SL masih bertahan kuat di pasar.

Mengapa Dimehipo Masih Sangat Diminati?

  1. Harga yang Ekonomis: Dibandingkan dengan bahan aktif golongan terbaru seperti Klorantraniliprol, harga Dimehipo jauh lebih terjangkau. Bagi petani dengan lahan luas, ini adalah poin krusial untuk menekan biaya produksi.

  2. Spektrum Luas: Tidak hanya untuk padi, Dimehipo juga efektif untuk lalat daun pada kedelai, ulat grayak pada jagung, hingga hama pada tanaman hortikultura.

  3. Efek Knockdown Cepat: Serangga yang terkena kontak langsung biasanya akan segera menunjukkan gejala kelumpuhan.

Masalah Resistensi: Mengapa Kadang Tidak Mempan?

Salah satu keluhan petani di tahun 2026 adalah efektivitas Dimehipo yang dianggap menurun. Hal ini bukan disebabkan oleh penurunan kualitas produk, melainkan resistensi hama.

Penggunaan Dimehipo secara terus-menerus tanpa selingan bahan aktif lain membuat generasi hama berikutnya menjadi lebih kebal. Selain itu, dosis yang tidak tepat (seringkali terlalu rendah) justru "melatih" hama untuk bertahan hidup dari paparan racun tersebut.

Tips Menggunakan Dimehipo Agar Tetap Ampuh

Agar penggunaan Dimehipo di lahan Anda tetap efektif dan efisien, gunakan strategi berikut:

  • Rotasi Bahan Aktif: Jangan gunakan Dimehipo setiap minggu. Selingi dengan bahan aktif dari golongan berbeda, misalnya dari golongan Neonikotinoid (seperti Imidakloprid --> Topdor 10 WP) atau (Abamektin --> Sidamec 20 EC)

  • Waktu Aplikasi yang Tepat: Lakukan penyemprotan pada sore hari saat stomata daun terbuka dan hama mulai aktif bergerak.

  • Gunakan Perekat (Spreader): Untuk tanaman dengan daun berlilin (seperti bawang merah), mencampurkan perekat akan membantu bahan aktif Dimehipo menempel lebih sempurna.

  • Fokus pada Pencegahan: Gunakan Dimehipo pada fase vegetatif awal untuk mencegah larva penggerek batang masuk ke dalam titik tumbuh tanaman.

  • Gunakan konsentrasi tinggi: Dari sekian banyak merk insektisida dimehipo, terdapat beberapa yang memiliki kadar tinggi, salah satunya adalah Sidatan 525 SL. Berbeda dengan kebanyakan dimehipo yang masih memiliki kadar 400an, Sidatan XR memiliki konsentrasi 525 g/l yang terbukti lebih ampuh dan lebih pekat. Cocok untuk mengatasi hama yang sudah mulai resisten dengan dimehipo standart.

Kesimpulan

Dimehipo masih sangat relevan digunakan di tahun 2026 sebagai bagian dari manajemen pengendalian hama terpadu. Meskipun ia adalah pemain lama, daya kerjanya yang sistemik dan harganya yang bersahabat tetap menjadikannya pilihan rasional bagi petani Indonesia. Kuncinya bukan pada seberapa mahal obatnya, melainkan pada ketepatan dosis dan waktu aplikasi.

Pada penggunaan lain, petani kadang menganggap dimehipo memiliki kelebihan dalam mengendalikan burung pipit pemakan bulir. Kendati hal ini bukan rekomendasi tetapi petani beralasan penggunaannya adalah hasil tambahan dan kelebihan dari Dimehipo. 


"DESCLIMER"

Banyak petani yang melaporkan, kondisi pasca penyemprotan tanaman padi pada kondisi masak susu atau (pengisian bulir awal), menunjukkan banyak burung yang mati setelah memakan butiran padi yang telah disemprot dengan dimehipo. Oleh sebagian petani menganggap insektisida ini dapat digunakan juga untuk mengatasi hama burung yang seringkali sangat meresahkan. 

"Semenjak menggunakan Sidatan XR 525 SL, gk usah khawatir lagi atas serangan burung pipit. Saya sengaja beli Sidatan XR yang kemasan 1 liter karena selain harganya terjangkau dapat digunakan beberapa kali dan mampu mengatasi burung juga" papar Pak Tarno Petani Padi Jombang.

!!! Perhatian....(Tetap gunakan pestisida secara bijak dan sesuai dengan peruntukannya)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memulihkan "Napas" Tanah dan Tanaman Pasca Banjir

Banjir tidak hanya meninggalkan trauma pada tanaman, tetapi juga merusak struktur tanah. Genangan air yang lama menyebabkan tanah menjadi pa...