Sisa Bakaran dan Teror yang Tertinggal
Kematian Jarot yang mengenaskan tidak serta-merta menghentikan keganjilan di desa itu. Pihak kepolisian yang datang ke lokasi ledakan gubuk dibuat garuk-garuk kepala. Tidak ada tabung gas, tidak ada bensin, namun gubuk itu rata dengan tanah seolah-olah dihantam meteor.
Polisi menemukan tiga benda aneh di pusat ledakan yang membuat bulu kuduk berdiri:
Foto Kang Sarmin yang sudah bolong di bagian jantungnya, namun anehnya foto itu tidak hangus terbakar api.
Bangkai ayam cemani yang perutnya berisi paku-paku berkarat dan rambut manusia.
Potongan jari kelingking yang masih segar, yang setelah diidentifikasi, bukan milik Jarot maupun sang dukun yang menghilang secara misterius.
Tamu Tak Diundang di Tengah Malam
Tiga hari setelah pemakaman Jarot yang dilakukan secara tertutup karena bau jenazahnya yang tak kunjung hilang, Kang Sarmin kembali merasa terusik. Kali ini bukan ledakan, melainkan suara ketukan pintu yang sangat pelan namun konsisten.
Tok... tok... tok...
"Kang... ini saya, Jarot... mau ambil sisa gaji..."
Suara itu serak, persis seperti suara Jarot saat masih hidup, namun ada nada "kosong" di dalamnya. Kang Sarmin tahu, itu bukan manusia. Itu adalah "Amukan Qorin"—sisa energi dendam Jarot yang tidak diterima bumi karena mati saat bersekutu dengan ilmu hitam.
Kang Sarmin mengintip dari lubang kunci. Di luar sana, sosok yang menyerupai Jarot berdiri dengan posisi tubuh terbalik. Kakinya di atas, kepalanya menggantung di bawah menyentuh tanah, dengan wajah yang hancur terbakar dan mata yang terus mengeluarkan ulat-ulat kecil berwarna merah.
Ritual Penutup yang Berbahaya
Kang Sarmin menyadari bahwa selama sang dukun—si otak di balik serangan ini—belum ditemukan, teror ini akan terus berlanjut. Sang dukun ternyata melarikan diri ke Hutan Larangan di perbatasan desa, mencoba melakukan ritual "Ngalap Berkah" untuk membangkitkan kembali sukma Jarot sebagai budak pembalas dendam (Pocong Keliling).
Malam Jumat Kliwon, Kang Sarmin memutuskan untuk tidak lagi bertahan. Ia membawa:
Air doa dalam botol bambu.
Sajadah tua milik kakeknya.
Keberanian untuk mengakhiri kegoblokan yang melampaui batas ini.
Saat memasuki hutan, Kang Sarmin melihat sang dukun sedang duduk bersila di depan sebuah lubang galian yang masih baru. Di dalamnya, jenazah Jarot ternyata sudah tidak ada!
"Kau terlambat, Sarmin!" tawa sang dukun melengking. "Jarot memang goblok saat hidup, tapi setelah jadi wedon (hantu), dia adalah mesin pembunuh yang paling patuh!"
Tiba-tiba, dari balik pohon beringin besar, muncul sosok putih yang kain kafannya sudah compang-camping dan dipenuhi lumpur hitam. Sosok itu melompat dengan gerakan yang tidak alami, bukan mengejar Kang Sarmin, melainkan menerkam sang dukun sendiri.
Rupanya, dendam Jarot begitu buta. Di matanya, sang dukunlah yang bertanggung jawab atas kematiannya yang sia-sia. Hutan itu dipenuhi teriakan minta tolong sang dukun yang diseret masuk ke dalam tanah oleh "peliharaannya" sendiri.
Akhir dari Segala Dendam
Setelah kejadian malam itu, galian tanah tersebut tertutup dengan sendirinya. Kang Sarmin menanam pohon bidara di atasnya sebagai pengunci agar energi negatif itu tidak lagi keluar.
Pagi harinya, warga menemukan sebuah fenomena aneh. Di pohon beringin hutan tersebut, terdapat ukiran alami di batangnya yang membentuk tulisan: "SAYA BERHENTI".
Kang Sarmin pulang ke rumah, membersihkan sisa-sisa paku di halamannya, dan kembali menjalani hidup dengan tenang. Ia sadar, musuh terberat manusia bukanlah setan atau santet, melainkan kebodohan yang dipelihara oleh rasa benci.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar