Penggunaan bahan aktif Fungisida Difenokonazol di fase vegetatif memang memiliki pro dan kontra, namun mayoritas praktisi agronomi menyarankan untuk membatasi atau menghindarinya jika tidak mendesak.
Berikut adalah alasan teknis mengapa penggunaan Difenokonazol di fase awal pertumbuhan perlu diwaspadai:
1. Efek Morfogenesis (Penghambat Tumbuh)
Difenokonazol termasuk dalam kelompok kimia Triazol. Secara fisiologis, Triazol bekerja dengan menghambat biosintesis gibberellin (hormon pemicu perpanjangan sel/pertumbuhan tinggi).
Dampaknya: Tanaman bisa mengalami "stunting" atau kerdil sementara. Ruas batang menjadi pendek dan daun menjadi sangat tebal serta kaku.
Risiko di Fase Vegetatif: Fase ini adalah waktu di mana tanaman butuh memacu tinggi dan luas daun. Jika dihambat, potensi tajuk tanaman tidak akan maksimal.
2. Efek Fitotoksisitas pada Jaringan Muda
Jaringan tanaman di fase vegetatif cenderung masih lunak dan sensitif. Difenokonazol bersifat sistemik kuat; jika diaplikasikan dengan dosis yang sedikit berlebih atau saat cuaca sangat terik, dapat menyebabkan burn (terbakar) pada tepian daun muda.
3. Manajemen Resistensi Jamur
Menggunakan bahan aktif yang sama (terutama golongan sistemik kuat) sejak awal hingga akhir siklus hidup tanaman akan mempercepat jamur menjadi kebal.
Prinsip Cerdas:
Gunakan fungisida kontak di fase awal, dan simpan fungisida sistemik kuat seperti Difenokonazol untuk fase kritis (generatif) atau saat serangan penyakit sudah di atas ambang kendali.
Perbandingan Penggunaan Fungisida
| Fitur | Fase Vegetatif (Awal) | Fase Generatif (Bunga/Buah) |
| Jenis Fungisida | Diutamakan Fungisida Kontak (Mankozeb, Propineb, Simoksanil) | Sistemik (Difenokonazol, Tebukonazol) |
| Tujuan Utama | Perlindungan permukaan & pencegahan | Pengobatan & kualitas hasil panen |
| Dampak ke Tanaman | Menjaga pertumbuhan tetap fleksibel | Memperkuat batang & mengkilapkan buah |
Gambar: Difenikonazol terlalu banyak di fase vegetatif menyebabkan padi tumbuh kerdil.
Kapan Anda Boleh Tetap Menggunakannya?
Meskipun kurang disarankan, Difenokonazol boleh masuk di fase vegetatif HANYA JIKA:
Terjadi serangan jamur yang tidak bisa dikendalikan fungisida kontak (misal: bercak daun yang meluas cepat).
Dosis dikurangi dari anjuran (misal: hanya 0,25 - 0,5 ml/liter).
Dicampur dengan nutrisi yang mendukung pertumbuhan (seperti unsur Nitrogen tinggi) untuk mengimbangi efek hambat tumbuhnya.
Kesimpulan: Secara teknis benar bahwa Difenokonazol kurang disarankan di fase vegetatif karena efek sampingnya sebagai penghambat tumbuh (growth retardant). Lebih baik fokus pada fungisida kontak untuk perlindungan rutin.
Sebagai solusi praktisnya, penggunaan fungisida tunggal seperti Sidazeb 80 WP, Satgaz 70 WP, atau kombo Sidabin 200/150 SC memiliki peran yang lebih dominan pada penanggulangan penyakit di fase vegetatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar