Pernahkah Sedulur tani mengalami kejadian tanaman di lahannya yang sebelumnya tumbuh subur ternyata setelah itu mati dan nampak kering/busuk dari bagian batang bawahnya? Setelah dilakukan pencabutan, nampak akar telah rusak dan dijumpai semacam hewan ulat seukuran jempol berwarna putih yang berkumpul nampak memakan akar. "Yups, itu hama uret" secara penampakan ada yang bilang mirip ulat sagu/ kelapa tetapi ini spesies yang berbeda ya sedulur. Beda dengan hama uret yang berada di kelapa.
Meskipun keduanya sering disebut "uret", uret tanah (larva kumbang tanah/lundi) dan uret kelapa (larva kumbang badak atau kumbang sagu) memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari segi fisik dan tempat hidupnya.
Berikut adalah perbandingan utamanya:
1. Uret Tanah (Lundi/Lepen)
Biasanya merupakan larva dari kumbang Phyllophaga helleri atau sejenisnya yang menyerang akar tanaman pangan (seperti jagung, padi, atau singkong).
Ukuran: Relatif lebih kecil, biasanya seukuran jempol orang dewasa atau lebih kecil (sekitar 2-5 cm).
Warna: Tubuh berwarna putih kusam atau kekuningan dengan bagian ujung belakang (pantat) biasanya berwarna abu-abu gelap atau kebiruan karena tumpukan kotoran di dalam ususnya.
Kepala: Berwarna cokelat muda atau oranye.
Kaki: Memiliki 3 pasang kaki di dekat kepala yang cukup panjang dan berfungsi untuk bergerak di dalam tanah.
Posisi Tubuh: Selalu melengkung membentuk huruf "C".
2. Uret Kelapa (Larva Kumbang Badak)
Ini adalah larva dari kumbang Oryctes rhinoceros (kumbang tanduk) yang sering ditemukan di batang kelapa yang membusuk atau tumpukan sampah organik.
Ukuran: Jauh lebih besar dan gemuk, bisa mencapai ukuran 7-10 cm (sebesar pisang susu).
Warna: Putih bersih atau putih susu, tekstur kulitnya terlihat lebih berkerut dan tebal.
Kepala: Berwarna cokelat tua hingga kemerahan dan sangat keras.
Tekstur Tubuh: Lebih keras dan kaku dibandingkan uret tanah.
Habitat: Jarang ditemukan jauh di dalam tanah lahan pertanian biasa; lebih sering di batang pohon kelapa yang lapuk, limbah kelapa sawit, atau tumpukan kompos yang sangat tebal.
Tabel Perbandingan Singkat
| Ciri-ciri | Uret Tanah (Jagung/Padi) | Uret Kelapa (Kumbang Badak) |
| Ukuran | Kecil - Sedang (2-5 cm) | Besar dan Gemuk (sampai 10 cm) |
| Warna Kepala | Cokelat Muda / Oranye | Cokelat Tua / Merah Gelap |
| Warna Ekor | Sering terlihat gelap/biru | Cenderung putih/kuning bersih |
| Tempat Tinggal | Di dalam tanah, makan akar | Batang lapuk / sampah organik |
| Dampak | Tanaman layu/mati mendadak | Kerusakan pada titik tumbuh sawit/kelapa |
Untuk mengendalikan uret tanah pada tanaman jagung menggunakan produk seperti Sidazinon 10 GR (yang merupakan insektisida butiran/granul), caranya cukup praktis. Karena uret berada di dalam tanah, kuncinya adalah memastikan obat sampai ke area perakaran.
Berikut adalah langkah-langkah aplikasinya:
1. Cara Aplikasi pada Tanaman Jagung
Ada dua cara utama yang bisa Anda lakukan tergantung pada kondisi tanaman:
Saat Tanam (Pencegahan): Taburkan butiran Sidazinon ke dalam lubang tanam bersamaan dengan benih jagung. Dosisnya cukup sekitar 1–2 gram per lubang (seujung sendok teh).
Tanaman Sudah Tumbuh (Pengobatan): Jika tanaman mulai terlihat layu, buatlah lubang kecil atau parit dangkal (sekitar 5 cm dari batang) menggunakan tugal, lalu masukkan butiran insektisida dan tutup kembali dengan tanah.
2. Dosis yang Disarankan
Untuk lahan jagung secara umum, dosis penggunaan biasanya berkisar antara 20 kg hingga 30 kg per hektar, tergantung pada tingkat kepadatan populasi uret di lahan tersebut.
3. Tips Agar Lebih Efektif
Kelembapan Tanah: Aplikasi paling efektif dilakukan saat tanah dalam keadaan lembab. Jika tanah terlalu kering, insektisida butiran akan sulit larut dan tidak bisa menjangkau uret. Jika lahan sangat kering, lakukan penyiraman sedikit setelah aplikasi.
Waktu Aplikasi: Sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terlalu terik atau sore hari.
Penutupan Tanah: Pastikan butiran tertutup tanah agar bahan aktifnya tidak menguap terkena sinar matahari langsung dan agar tidak dimakan oleh hewan ternak atau burung.
Kelembapan Tanah: Aplikasi paling efektif dilakukan saat tanah dalam keadaan lembab. Jika tanah terlalu kering, insektisida butiran akan sulit larut dan tidak bisa menjangkau uret. Jika lahan sangat kering, lakukan penyiraman sedikit setelah aplikasi.
Waktu Aplikasi: Sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terlalu terik atau sore hari.
Penutupan Tanah: Pastikan butiran tertutup tanah agar bahan aktifnya tidak menguap terkena sinar matahari langsung dan agar tidak dimakan oleh hewan ternak atau burung.
⚠️ Peringatan Keselamatan
Karena ini adalah pestisida golongan organofosfat (seperti Diazinon):
Gunakan Sarung Tangan: Jangan menyentuh butiran langsung dengan tangan telanjang.
Cuci Tangan: Bersihkan tangan dan kaki dengan sabun setelah selesai aplikasi.
Penyimpanan: Jauhkan kemasan dari jangkauan anak-anak dan sumber air minum.
Jawa merupakan wilayah dengan tingkat serangan tertinggi karena banyaknya lahan pasir dan perkebunan Jagung/ Tebu.
Yogyakarta: Terutama di wilayah Kulon Progo (daerah pesisir) dan Bantul. Uret di sini sering menyerang tanaman tebu, kelapa, dan palawija.
Jawa Timur: Merupakan titik serangan paling parah di Indonesia, meliputi:
Kediri & Jombang: Serangan hebat pada perkebunan tebu.
Blitar & Tulungagung: Menyerang tanaman tebu dan singkong.
Pasuruan & Probolinggo: Sering ditemukan di lahan kering/tegalan.
Lumajang: Menyerang tanaman jagung dan umbi-umbian di lahan berpasir.
Jawa Tengah: Meliputi wilayah Pati, Kudus, dan Jepara, terutama pada lahan tebu dan hutan jati.