Selasa, 06 Januari 2026

WASPADA SERANGAN URET MUSIM HUJAN DI WILAYAH INI

 


Pernahkah Sedulur tani mengalami kejadian tanaman di lahannya yang sebelumnya tumbuh subur ternyata setelah itu mati dan nampak kering/busuk dari bagian batang bawahnya? Setelah dilakukan pencabutan, nampak akar telah rusak dan dijumpai semacam hewan ulat seukuran jempol berwarna putih yang berkumpul nampak memakan akar. "Yups, itu hama uret" secara penampakan ada yang bilang mirip ulat sagu/ kelapa tetapi ini spesies yang berbeda ya sedulur. Beda dengan hama uret yang berada di kelapa. 


Meskipun keduanya sering disebut "uret", uret tanah (larva kumbang tanah/lundi) dan uret kelapa (larva kumbang badak atau kumbang sagu) memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari segi fisik dan tempat hidupnya.

Berikut adalah perbandingan utamanya:



1. Uret Tanah (Lundi/Lepen)

Biasanya merupakan larva dari kumbang Phyllophaga helleri atau sejenisnya yang menyerang akar tanaman pangan (seperti jagung, padi, atau singkong).

  • Ukuran: Relatif lebih kecil, biasanya seukuran jempol orang dewasa atau lebih kecil (sekitar 2-5 cm).

  • Warna: Tubuh berwarna putih kusam atau kekuningan dengan bagian ujung belakang (pantat) biasanya berwarna abu-abu gelap atau kebiruan karena tumpukan kotoran di dalam ususnya.

  • Kepala: Berwarna cokelat muda atau oranye.

  • Kaki: Memiliki 3 pasang kaki di dekat kepala yang cukup panjang dan berfungsi untuk bergerak di dalam tanah.

  • Posisi Tubuh: Selalu melengkung membentuk huruf "C".


2. Uret Kelapa (Larva Kumbang Badak)

Ini adalah larva dari kumbang Oryctes rhinoceros (kumbang tanduk) yang sering ditemukan di batang kelapa yang membusuk atau tumpukan sampah organik.

  • Ukuran: Jauh lebih besar dan gemuk, bisa mencapai ukuran 7-10 cm (sebesar pisang susu).

  • Warna: Putih bersih atau putih susu, tekstur kulitnya terlihat lebih berkerut dan tebal.

  • Kepala: Berwarna cokelat tua hingga kemerahan dan sangat keras.

  • Tekstur Tubuh: Lebih keras dan kaku dibandingkan uret tanah.

  • Habitat: Jarang ditemukan jauh di dalam tanah lahan pertanian biasa; lebih sering di batang pohon kelapa yang lapuk, limbah kelapa sawit, atau tumpukan kompos yang sangat tebal.


Tabel Perbandingan Singkat

Ciri-ciriUret Tanah (Jagung/Padi)Uret Kelapa (Kumbang Badak)
UkuranKecil - Sedang (2-5 cm)Besar dan Gemuk (sampai 10 cm)
Warna KepalaCokelat Muda / OranyeCokelat Tua / Merah Gelap
Warna EkorSering terlihat gelap/biruCenderung putih/kuning bersih
Tempat TinggalDi dalam tanah, makan akarBatang lapuk / sampah organik
DampakTanaman layu/mati mendadakKerusakan pada titik tumbuh sawit/kelapa

Untuk mengendalikan uret tanah pada tanaman jagung menggunakan produk seperti Sidazinon 10 GR (yang merupakan insektisida butiran/granul), caranya cukup praktis. Karena uret berada di dalam tanah, kuncinya adalah memastikan obat sampai ke area perakaran.

Berikut adalah langkah-langkah aplikasinya:

1. Cara Aplikasi pada Tanaman Jagung

Ada dua cara utama yang bisa Anda lakukan tergantung pada kondisi tanaman:

  • Saat Tanam (Pencegahan): Taburkan butiran Sidazinon ke dalam lubang tanam bersamaan dengan benih jagung. Dosisnya cukup sekitar 1–2 gram per lubang (seujung sendok teh).

  • Tanaman Sudah Tumbuh (Pengobatan): Jika tanaman mulai terlihat layu, buatlah lubang kecil atau parit dangkal (sekitar 5 cm dari batang) menggunakan tugal, lalu masukkan butiran insektisida dan tutup kembali dengan tanah.

2. Dosis yang Disarankan

Untuk lahan jagung secara umum, dosis penggunaan biasanya berkisar antara 20 kg hingga 30 kg per hektar, tergantung pada tingkat kepadatan populasi uret di lahan tersebut.

3. Tips Agar Lebih Efektif

  • Kelembapan Tanah: Aplikasi paling efektif dilakukan saat tanah dalam keadaan lembab. Jika tanah terlalu kering, insektisida butiran akan sulit larut dan tidak bisa menjangkau uret. Jika lahan sangat kering, lakukan penyiraman sedikit setelah aplikasi.

  • Waktu Aplikasi: Sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terlalu terik atau sore hari.

  • Penutupan Tanah: Pastikan butiran tertutup tanah agar bahan aktifnya tidak menguap terkena sinar matahari langsung dan agar tidak dimakan oleh hewan ternak atau burung.


⚠️ Peringatan Keselamatan

Karena ini adalah pestisida golongan organofosfat (seperti Diazinon):

  1. Gunakan Sarung Tangan: Jangan menyentuh butiran langsung dengan tangan telanjang.

  2. Cuci Tangan: Bersihkan tangan dan kaki dengan sabun setelah selesai aplikasi.

  3. Penyimpanan: Jauhkan kemasan dari jangkauan anak-anak dan sumber air minum.


Jawa merupakan wilayah dengan tingkat serangan tertinggi karena banyaknya lahan pasir dan perkebunan Jagung/ Tebu.

  • Yogyakarta: Terutama di wilayah Kulon Progo (daerah pesisir) dan Bantul. Uret di sini sering menyerang tanaman tebu, kelapa, dan palawija.

  • Jawa Timur: Merupakan titik serangan paling parah di Indonesia, meliputi:

    • Kediri & Jombang: Serangan hebat pada perkebunan tebu.

    • Blitar & Tulungagung: Menyerang tanaman tebu dan singkong.

    • Pasuruan & Probolinggo: Sering ditemukan di lahan kering/tegalan.

    • Lumajang: Menyerang tanaman jagung dan umbi-umbian di lahan berpasir.

  • Jawa Tengah: Meliputi wilayah Pati, Kudus, dan Jepara, terutama pada lahan tebu dan hutan jati.

Serangga dewasa/ kumbang dewasa biasa melakukan penerbangan dan perkawinan pada awal musim hujan pada oktober dan nopember. Betina dewasa selanjutnya akan bertelur dengan menggali tanah hingga kedalama 0,5 - 1 meter ke dalam tanah. Setelah penetasan pada sebulan setelah peletakan telur maka larva/ uret akan bergerak menuju perkaran tanaman dan mulai menggerek. setelah selesainya fase makan dia akan berpuasa dan menjalani fase pupa hingga menetas menjadi serangga dewasa.

Tahap efektif pemberiaan insektisida adalah sebulan setelah masa perkawinan sekitar akhir Oktober atau Nopember di mana kumbang betina akan bergerak di sekitar perakaran tanaman yang lebih dalam. 
Waktu selanjutnya adalah pada saat 45-60 hari setelahnya atau sekitar akhir Januari-Februari dimana telur yang menetas mengarahkan bayi-bayi kumbang/ larva uret bergerak menuju perakaran, Ini adalah waktu yang paling tepat dalam pemberian insektisida tabur ini. 

Penggunaan bahan aktif Diazinon, Karbofuran dan Fipronil selama ini dinilai cukup efektif dalam memberikan perlindungan akar tanaman asalkan pemberiannya tidak terlambat. 
Sediakan produk ini dan aplikasikan di awal bersamaan dengan pemberian pupuk pertama untuk efisiensi dan memudahkan aplikasinya.


Hati-hati dengan produk murah yang hanya berisi pasir dan batuan yang tidak mengandung produk secara tepat.
Gunakan produk yang sudah terjamin kuaitasnya di lapangan. Di antaranya: Sidazinon 10 GR, Fipros 0,4 GR dan Sidafur 3 GR. 



HERBISIDA KOMBO ATASI GULMA DAUN LEBAR DAN SEMPIT LAHAN KOPI

 


HERBISIDA KOMBO ATASI GULMA DAUN LEBAR DAN SEMPIT

Strategi Tuntas Pengendalian Gulma dengan Bulma 400/150 SL dan Sidastar 300/100 SL di Perkebunan Kopi

Dalam budidaya kopi, keberadaan gulma bukan sekadar masalah estetika lahan. Gulma adalah kompetitor utama yang mencuri 30% hingga 50% jatah pupuk, air, dan ruang tumbuh tanaman kopi. Namun, tantangan terbesar petani adalah keberagaman jenis gulma: ada yang berdaun sempit (rumput), berdaun lebar, hingga golongan teki-tekian yang membandel.

Mengandalkan satu jenis bahan aktif sering kali menyisakan masalah. Oleh karena itu, penggunaan Herbisida Kombo seperti Bulma 400/150 SL dan Sidastar 300/100 SL menjadi solusi paling efektif dan efisien saat ini.


Mengapa Harus Formula Kombo?

Herbisida kombo adalah produk yang menggabungkan dua bahan aktif berbeda dalam satu kemasan (biasanya IPA Glifosat dan 2,4-D Amina).

  1. Sinergi Mematikan: Glifosat bekerja menyerang rumput-rumputan hingga ke akar, sementara 2,4-D Amina fokus melumpuhkan gulma berdaun lebar yang sering kali kebal terhadap glifosat biasa.

  2. Efisiensi Biaya & Tenaga: Petani tidak perlu membeli dua botol herbisida secara terpisah dan mencampurnya secara manual. Risiko kegagalan pencampuran (penggumpalan) pun dapat dihindari.

  3. Spektrum Luas: Sekali semprot, semua jenis gulma (daun lebar, sempit, dan teki) langsung terkendali.


Mengenal Kekuatan Bulma 400/150 SL dan Sidastar 300/100 SL

1. Bulma 400/150 SL: Spesialis Lahan Menengah hingga Berat

Bulma hadir dengan konsentrasi tinggi untuk memastikan daya bunuh yang lebih cepat dan tuntas.

  • Keunggulan: Sangat kuat dalam mengendalikan gulma berdaun lebar yang sudah tua atau berkayu di area piringan kopi.

  • Cara Kerja: Sistemik purna tumbuh. Begitu terkena daun, cairan akan dialirkan ke seluruh jaringan hingga titik tumbuh di akar mati total.





2. Sidastar 300/100 SL: Penjaga Kebersihan Lahan Produktif

Sidastar diformulasikan untuk memberikan perlindungan jangka panjang pada lahan perkebunan.

  • Keunggulan: Daya serap (absorpsi) yang sangat cepat ke jaringan gulma. Sangat efektif untuk mengendalikan gulma Ageratum conyzoides (Babadotan) dan Borreria sp. yang sering menjadi masalah utama di kebun kopi.

  • Hasil: Tanah di sekitar tanaman kopi tetap bersih lebih lama, sehingga penguapan air tanah berkurang dan kelembapan terjaga.


Panduan Aplikasi Aman di Kebun Kopi

Penggunaan herbisida kuat memerlukan teknik yang benar agar tidak meracuni tanaman utama (kopi):

LangkahInstruksi Teknis
Dosis AnjuranGunakan 75 - 100 ml per tangki 16 liter (atau sesuai tingkat kepadatan gulma).
Waktu TerbaikPagi hari (jam 07.00 - 10.00) saat gulma sedang aktif berfotosintesis dan tidak ada angin kencang.
Teknik SemprotGunakan Nozzle kipas. Arahkan nozzle ke bawah (fokus pada gulma). Gunakan corong (hood) pada nozzle untuk mencegah uap herbisida mengenai daun atau batang muda kopi.
Kondisi CuacaHindari penyemprotan jika diprediksi akan hujan dalam 4 jam ke depan agar bahan aktif terserap sempurna.




Kesimpulan

Pengendalian gulma yang cerdas adalah kunci produktivitas kopi yang tinggi. Dengan menggunakan Bulma 400/150 SL atau Sidastar 300/100 SL, petani mendapatkan keuntungan ganda: lahan bersih tuntas dari berbagai jenis gulma dan biaya operasional yang lebih hemat.

Ingat: Lahan yang bersih adalah awal dari panen yang melimpah!


Selalu baca petunjuk pada label kemasan sebelum penggunaan dan gunakan alat pelindung diri lengkap.

Jangan Cuci Tangki Bekas Semprot Sidamethrin di Kolam Ikan

Maut Tersembunyi di Balik Sisa Semprotan: Mengapa Cuci Tangki Sidamethrin di Kolam Adalah "Kiamat" bagi Ikan Anda

Bagi para petani atau penghobi tanaman, Sidamethrin adalah pahlawan. Dengan bahan aktif Sipermetrin, ia adalah senjata ampuh untuk membasmi ulat, kutu daun, hingga belalang. Namun, di balik keampuhannya di ladang, ada sisi gelap yang sangat mematikan: Sidamethrin adalah musuh nomor satu bagi ikan.

Seringkali, setelah menyemprot ladang, kita merasa praktis untuk mencuci tangki semprot di pinggir kolam atau sungai. Padahal, tindakan ini ibarat menyebar racun syaraf ke dalam rumah ikan.

1. Dosis "Seujung Kuku" yang Mematikan

Tahukah Anda? Sidamethrin termasuk dalam golongan Piretroid. Berbeda dengan manusia yang punya enzim untuk menetralisir racun ini, ikan sama sekali tidak punya pertahanan.

Satu tetes sisa cairan Sidamethrin yang tertinggal di tangki mungkin terlihat sepele. Namun, bagi ribuan liter air kolam, konsentrasi sekecil 0,01 ppm (part per million) sudah cukup untuk membuat ikan-ikan Anda meregang nyawa. Mencuci tangki di kolam bukan lagi mencemari, tapi langsung mengeksekusi seluruh isi kolam.

2. Siksaan "Setrum" Tanpa Listrik

Saat air cucian tangki masuk ke kolam, bahan aktif Sipermetrin akan langsung menyerang sistem saraf ikan melalui insang. Ikan tidak mati dengan tenang. Mereka akan mengalami:

  • Hiperaktivitas: Ikan berenang sangat cepat dan menabrak dinding kolam karena sarafnya "korsleting".

  • Kejang Hebat: Tubuh ikan melengkung dan kaku karena seluruh ototnya dipaksa bekerja tanpa henti.

  • Gagal Napas: Akhirnya, otot pernapasan mereka lumpuh. Ikan mengapung dalam kondisi mulut menganga.

3. Racun yang "Betah" di Dasar Kolam

Jangan mengira racun itu akan hilang saat air mengalir. Sidamethrin bersifat hidrofobik—ia tidak suka air dan lebih memilih mengikatkan diri pada lumpur dan sedimen di dasar kolam. Artinya, meskipun Anda sudah mengganti air kolam, sisa racun yang mengendap di lumpur bisa terus meracuni benih ikan baru yang Anda masukkan berbulan-bulan kemudian.


💡 Cara Aman Membersihkan Tangki Semprot

Daripada mengorbankan investasi ikan Anda, lakukan langkah ini:

  1. Cuci di Lahan Kering: Cuci tangki di area tanah terbuka yang jauh dari sumber air atau selokan. Biarkan tanah menyerap sisa air cucian.

  2. Gunakan Metode "Tiga Kali Bilas": Isi tangki dengan air bersih, kocok, dan semprotkan sisa bilasan tersebut ke lahan pertanian (bukan ke air). Ulangi 3 kali.

  3. Jauhkan dari Saluran Irigasi: Ingat, air yang mengalir dari tempat cucian Anda bisa membunuh ikan di kolam tetangga atau ekosistem sungai.


Penyesalan di Balik Kilau Air Kolam: Kisah Pak Darmo

Pagi itu, matahari baru saja mengintip di ufuk timur Desa Sukamaju. Pak Darmo, seorang petani cabai yang tekun, baru saja menyelesaikan tugasnya menyemprot hama ulat yang sempat menyerang lahannya. Di punggungnya, tangki semprot merk lama masih terasa berat.

"Untung ada Sidamethrin," gumamnya puas melihat beberapa ulat sudah mulai jatuh tak berdaya.

Karena lelah dan ingin segera sarapan, Pak Darmo melangkah menuju kolam nila di belakang rumahnya. Kolam itu adalah kebanggaannya—berisi ratusan ekor nila yang sebentar lagi siap panen untuk biaya sekolah anaknya.

Tanpa pikir panjang, ia membuka tutup tangki semprotnya. Ia mencelupkan tangki itu ke pinggiran kolam, lalu mengguyurkan sisa sedikit cairan putih susu dari dalam tangki langsung ke air kolam. “Hanya sisa bilasan sedikit, tidak akan apa-apa,” pikirnya sambil mengucek nozzle semprotan di dalam air.

Sepuluh Menit yang Mengubah Segalanya

Pak Darmo meletakkan tangkinya dan duduk di dipan kayu sambil menyeruput kopi hangat yang disiapkan istrinya. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.

Ia mendengar suara kecipak air yang tidak wajar. Plak! Plak!

Pak Darmo berlari ke pinggir kolam. Matanya terbelalak. Ikan-ikan nilanya yang biasanya tenang kini seperti kerasukan. Beberapa ikan melompat tinggi ke udara, lalu jatuh kembali dengan posisi miring. Ada yang berenang berputar-putar dengan kecepatan tinggi menabrak dinding semen, seolah-olah sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang menyiksa mereka.

"Lho, kenapa ini?!" teriaknya panik.

Ia baru sadar. Air di pojok kolam tempat ia mencuci tangki tadi telah berubah menjadi keruh keputihan. Racun Sipermetrin dalam Sidamethrin sedang bekerja. Bagi Pak Darmo, itu hanya air bilasan. Bagi ikan-ikannya, itu adalah serangan gas saraf yang mematikan.

Satu per satu, ikan-ikan yang tadinya gagah mulai lemas. Gerakan mereka melambat, insangnya bergerak megap-megap dengan sangat cepat, hingga akhirnya mereka mengapung satu per satu dengan perut putih menghadap langit.

Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, kolam yang tadinya penuh kehidupan itu berubah menjadi kuburan massal yang sunyi. Bau amis air kolam bercampur dengan aroma tajam bahan kimia.

Pelajaran Mahal

Sore harinya, Pak Darmo hanya bisa terduduk lesu di pinggir kolam sambil menyaring bangkai ikan-ikannya. Panen yang ia harapkan sirna sudah. Ia baru menyadari satu hal: Ketidaktahuan adalah racun yang sebenarnya.

Ia ingin menghemat waktu 5 menit dengan mencuci tangki di kolam, tapi justru kehilangan hasil kerja kerasnya selama 5 bulan.

Kesimpulan: Sayangi Ikan, Bijaklah Bertani

Sidamethrin diciptakan untuk menjaga tanaman, bukan untuk menguras kolam. Jangan biarkan kerja keras Anda memelihara ikan hancur hanya karena ingin praktis selama 5 menit saat mencuci tangki.

Ingat: Satu tangki sisa semprot yang dibersihkan di kolam, bisa berarti ribuan ikan mati sia-sia. Jangan dicoba-ciba apalagi digunakan untuk mencari ikan di empang/ parit.


BIJAK MENGGUNAKAN PESTISIDA YA SEDULUR SEMUA. HARUS AMAN DAN SESUAI ATURAN.



WASPADA SERANGAN URET MUSIM HUJAN DI WILAYAH INI

  Pernahkah Sedulur tani mengalami kejadian tanaman di lahannya yang sebelumnya tumbuh subur ternyata setelah itu mati dan nampak kering/bus...