Selasa, 20 Desember 2022

Budidaya Organik, Mendongkrak Produktifitas Budidaya Tanpa Kimia Sintetik, Bisakah? (Bagian 1)



"Benarkah bisa?"

Pada pembudidaya komoditas organik pasti akan langsung menjawab "Bisa"

Hanya pada kenyataannya, pembudidaya pertanian organik memang membutuhkan upaya lebih ekstra dalam memenuhi kecukupan asupan hara pada tanamannya selain untuk perlindungan tanaman. Selain itu juga pembudidaya organik wajib menjaga kondisi tanamannya dari paparan kimia di sekitarnya. 



"Apakah mungkin?"

Secara teorinya bisa dan sangat mungkin, tetapi secara prakteknya memang masih sangat sulit dilaksanakan jika organik yang benar-benar murni. Masih bisa, tetapi kadang hasilnya kurang maksimal tidak seperti halnya jika dikombinasi dengan bahan Kimia. Pada gaya masyarakat sehat, persyaratan organik adalah pilihan dan gaya hidup. Tentunya karena mendapatkannya lebih sulit maka harganya juga akan lebih mahal jika dibandingkan dengan tanaman budidaya biasa.

Sebutlah Budi, salah seorang pelaku budidaya organik di kota batu Malang. Dia harus selalu siap dengan fermentasi kohe peliharaannya mulai kotoran sapi, kelinci dan kambing hingga urin hewan-hewan peliharaan itu. Tantangan budidaya organik memang tidak hanya sekedar menghilangkan penggunaan pestisida, tetapi juga penggunaan pupuk dan air irigasinya. Agak repot ketika posisi lahan kita berada pada aliran air yang sama dengan pembudidaya tanaman yang ada di atas lahan kita yang jelas-jelas menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Kendla juga ketika serangan hama sudah tidak mampu dikendalikan oleh pestisida organik atau nabati.

"Syarat keorganikan kalau dari menjaga penggunaan pupuk dan pestisida kimia mungkin bisa, kalau air bagaimana?"



Sesuai persyaratan keorganikan, jika tidak bisa mendapatkan sumber air yang bisa dijamin kemurniannya pelaku budidaya organik harus mengkondisikan air yang akan masuk ke lahannya atau dengan kata lain melakukan treatment terlebih dahulu, filtering atau penyaringan istilahnya. 

Penggunaan tanaman enceng gondok dan jenis teratai air yang dibudidayakan di kolam atau bak air penampung sebelum di alirkan ke lahan budidaya organik menjadi salahsatu upaya yang bisa ditempuh sebagai pelaku budidaya organik. Penyaringan aliran air dengan sabut kelapa dan pecahan arang juga ditempuh untuk menyaring kandungan kimia yang terikut air. 


"Bagaimana dengan pupuk dan pestisidanya?"

Kondisi sekarang cukup mudah mendapatkan pupuk dan pestisida yang mendukung budidaya organik. Kendati membutuhkan perlakuan yang lebih intensif pola perlindungan dan pemberian nutrisi tanaman masih dapat dilakukan dengan organik. 

Pestisida nabati dari ekstrak tanaman atau dari fermentasi dinilai cukup ampuh mengatasi hama dan penyakit, sedangkan untuk pupuk atau nutrisi tanaman dapat dipenuhi dengan kohe, hijauan atau pupuk organik produksi pabrikan. Kalau kondisi air bisa didapat dari pengeboran air tanah atau dari mata air pegunungan langsung yang mengalir ke lahan dengan memperhitungkan paparan kimia dari lahan budidaya yang di laluinya.

Ada beberapa produk organik dan hayati yang selama ini dapat dijadikan pilihan oleh para petani atau praktisi pertanian organik, di antaranya yang sedang di galakkan saat ini adalah.



1. Produk Pupuk Organik Granulasi.

Produk ini dibuat dengan melakukan proses granulasi dari material bahan bakunya semisal kohe maupun material organik lainnya (sisa baglog jamur, dedaunan, serabut kelapa, arang, dolomit dll. Penambahan unsur NPK didapat murni dengan pemberian bahan-bahan orgnik dan non kimia tertentu.

Contoh produk organik granulasi ini semisal Sidanik dan Baktenik, POG produksi Petrosida Gresik.


2. Fermentasi dari Kohe

Yang banyak digunakan selama ini adalah kotoran sapi/ kerbau (heman ruminansia), kotoran kambing, kelinci, ayam (unggas), dan kelelawar. Ada yang dengan sistem di hamparkan dilahan hingga kohe menjadi matang dan siap digunakan. Ada juga yang dilakukan dengan proses fermentasi dengan menambahkan mikroba pengurai pada bahannya tersebut. Diaharapkan dengan proses fermentasi akan mematikan mikroba patogen dan lebih meningkatkan ketersediaan unsur hara asli dari bahan tersebut. Pencampuran kohe dengan agen/ cairan dekomposer mampu memberikan nilai tambah pada peningkatan unsur hara yang dikandung oleh pupuk dari Kohe. Kalau yang dikenal selama ini bisa menggunakan EM-4 atau Petrogladiator.


3. Olahan Hijauan

Dipercaya selama ini untuk hijauan dari daun atau tanaman tertentu memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi semisal tanaan kacang-kacangan yang memiliki kandungan N lebih tinggi. Jerami Padi dengan kandungan Kalium dan Kulit pisang, enceng gondok, daun kelor, kulit nanas dengan kandungan phospor. Sistem perajangan bahan-bahan tersebut dapat diberikan dalam bentuk pupuk basahan atau dengan dikeringkan terlebih dahulu. Bisa gabung dengan penbenah tanah.


4. Ampas/  Sisa Bahan Organik Pengolahan

Selama ini ampas pengolahan semisal pengolahan kelapa, pengolahan kedelai, pengolahan buuah dan lain-lain sering terbuang percuma. Bahan-bahan ini sebenarnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk dengan kandungan hara yang bermanfaat. Penggunaan bisa dilakukan dengan fermentasi atau dengan pencampuran organik untuk melepaskan panas dekomposisinya terlebih dahulu.

Selain dari tanaman, limbah pengolahan dari hewan juga dapat dimanfaatkan semisal jeroan hewan baik ikan maupun yang berkaki dua dan empat. Olahan ini dipercaya mengandung asam amino esensial yang sangat bermanfaat pula untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Perlu diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan asam amino yang terkandung di dalamnya.


5. Sisa Media Tanam

Selama ini yang bisa digunakan adalah bekas media tanam jamur (baglog) yang dipercaya masih memiliki kandungan organik tinggi. 

Kalau dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia, memang penggunaan pupuk organik memiliki beberapa keterbatasan yaitu membutuhkan jumlah besar untuk mencapai persatuan kandungan haranya. Kalau untuk mengatasi dan mensiasati kandungan hara, penambahan mikroba hayati bisa jadi solusi khususnya untuk yang perombak organik, penambah N, pelarut P dan K dan fitohormon. Bisa jadi solusi upgrade ketersediaan kandungan unsur haranya.


Bersambung..


"Salam Merdesa"

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya


Baca Selanjutnya: Saptabio dan Trichosida









Rabu, 23 November 2022

Tips Memilih Sayur Buat Penderita Diabetes



#Pilihan Sayur untuk Penderita Diabetes#

Manusia dengan gaya hidup modern saat ini sangat rentan dengan penyakit. Mulai tekanan darah tinggi, kolesterol, asam urat hingga diabetes. Kecenderungan makan besar dan minim gerak aktifitas olahraga adalah penyebab dominan yang banyak dihadapi masyarakat saat ini. Sebagai referensi, tentunya penyakit-penyakit tadi tidak akan bisa dirasakan secara langsung atau pada stadium awal, kebanyakan mereka baru menyadarinya ketika sudah menjadi parah atau memasuki stadium lanjut. 

Untuk kali ini kita akan membatasi pembahasan tentang penyakit diabetes. Keterlambatan menyadari kondisi penyakit diabetes ini adalah faktor dominan yang banyak dialami siapapun khususnya generasi muda yang akhirnya menjadi terjebak dengan kondisi penyakit ini.

Berbeda dengan kebanyakan masyarakat dulu, makan jumlah banyak bukan menjadi masalah karena individu dulu merupakan pribadi yang lebih aktif dan banyak aktifitas/bergerak. Coba dibandingkan dengan kondisi masyarakat sekarang yang lebih senang makan enak, makan besar, tetapi malas beraktivitas. Pergerakan manusia semua berjalan dengan mesin dan lebih minim tenaga. Makan-tidur, makan-tidur, makan-tidur, hehehe.....

Alhasil kebiasaan malas gerak itu menyebabkan penumpukan gula pada tubuh dan ujung-ujungnya pankreas menjadi rusak dan menyebabkan diabetes.

Sadarkah kita, ketika pengujian medical cek up yang rutin kita laksanakan setiap tahunnya sebenarnya bisa menjadi filter awal screening kondisi awal kesehatan. Banyak penyakit berat yang bisa dideteksi lebih awal termasuk si diabetes.

Apakah sebelumnya tidak ada tanda-tandanya?

Sebenarnya tubuh manusia memiliki  early warning system, hanya saja kategorinya berbeda antara satu dengan yang lain. Ada kondisi tubuh manusia yang cenderung fast respon dan di sisi lain ada yang slow respon. Manusia dengan kondisi fast respon akan segera menyadari jika ada hal yang tidak sesuai dengan tubuhnya. Merasa tidak enak letih, lesu, mudah haus dan lapar. Kondisi ini muncul terlebih dahulu dengan sebutan kondisi pra diabetes. 

Celakanya kondisi ini mayoritas terlambat disadari calon diabetasi. Ketika mereka menyadari telah mengalami sakit yang sudah masuk di fase diabetes. Kalau ditanya sebenarnya apakah yang perlu dijaga oleh penderita diabetes?

Menurut standart kesehatan, American Diabetes Association menyata, kan kadar gula darah normal pada orang dewasa sehat adalah :

Berkisar antara 70-130 miligram/desiliter (Sebelum makan). 

Setelah makan, kadar akan naik dari batas tersebut yaitu kurang dari 140 miligram/desiliter (setelah 2 jam). Pada faktanya penderita diabetes yang tidak terkontrol bahkan ada yang dapat mencapai 1000 miligram perdesiliter. Hal ini yang menyebabkkan komplkasi pada penderita diabetes hingga kondisi parah bisa menyebabkan amputasi. Untuk menghindari hal itu terjadi sebagai menusia yang peduli kesehatan maka kita perlu berhati hati dan mengantisipasinya. 

Memang karena penderita diabetes tidak bisa menghasilkan insulin secara normal makanya berat badannya cenderung akan semakin kurus. Dengan mengurangi asupan makanan juga malah mengakibatkan badan semakin kurus. 
"Terus bagaimana dong?"
Kuncinya makan sedikit sedikit tapi dibuat sering, biar makanannya tetap jadi tenaga. Kalau mau makan normal, konsumsi obat yang merangsang produksi insulin sehingga makanan yang kita makan dapat diolah menjadi tenaga atau disimpan jadi cadangan lemak tubuh. 
Selain membatasi makanan karbohidrat, para diabetasi harus pintar menjaga makanan khususnya yang bersifat kandungan gula kompleks.Selain itu, para penderita diabetes dianjrkan makan makanan yang banyak mengandung serat, manfaatnya supaya lebih tahan kenyang karena penderita diabetes gampang lapar.

Selain menjaga makanan, ternyata ada beberapa makanan yang selama ini dikenal dapat membantu para diabetasi dan ini bisa di konsumsi untuk mengganti atau alternatif pengganti obat buat penderita diabetes yang malas makan obat kimia. Kalau pas ada sayur-sayur ini, cukup konsumsi saja secara cukup dan tidak usah konsumsi obat kimia. Khasiatnya sudah pernah penulis analisa sendiri dengan rutin mengechek kadar gula darah pagi dan sore secara rutin hingga 2 bulan dan terbukti. Yuk disimak:

1. PARE




dikenal mengandung antioksidan tinggi, buah pare masyhur di konsumsi para penderita diabetes. Dari mulai dibuat jus, dibuat sayur hingga direbus saja. Buah yang dikenal memiliki rasa pahit ini terbukti mampu menurunkan kadar gula dalam darah dalam hitungan jam. Pada ujicoba yang dilaksanakan, penderita diabetes yang mengkonumsi buah pare dapat menjaga kadar gulanya tetap normal rendah hingga 24 jam semenjak awal konsumsinya. 
Mengkonsumsi buah Pare cukup 300 - 500 gram perhari sudah cukup untuk mengontrol gula darah. Tapi perlu diingat jangan dikonsumsi berbarengan dengan obat kimia diabetes ya..khawatir jadi hipoglikemik karena kadar gula darah terlalu rendah.
Kandungan vitamin A, C, betakaroten, kalsium dan zat besi serta kandungan zat sejenis insulin yang sangat terbukti ampuh mengontrol kadar gula dalam darah.


2. GAMBAS




Buah gambas atau ada yg menyebutnya oyong selama in banyak dibuat sayur bening. Rasanya yang sedikit manis segar dengan kandungan serat tinggi menjadikan gambas salah satu sayur favorit penderita diabetes. Tidak hanya kaya serat yang memperlancar pencernaan, kandungan serat tinggi ini dipercaya memberikan efek kenyang lebih lama untuk penderita diabetes dan ini yang sangat membantu diabetasi.


3. TIMUN KRAI



Buah timun krai selama ini banyak dikonsumsi maskarakat kita sebagai lalapan sambal, tetapi siapa sangka dengan konsumsi rutin buah ini dengan cukup merebusnya saja sebiji sehari dapat menurangi kadar gula dalam darah. Yang penting lagi rasa kenyang dari komsumsi timun krai relatif awet hingga pagi. Boleh coba dipraktekkan. Untuk mengganti makan malam, dengan konsumsi timun krai cukup mengenyangkan hingga terbangun pagi.

4. BUNCIS



Selain kaya serat, buncis golongan kacang-kacangan yang memiliki kandungan protein tinggi. Sifatnya yang renyah dan sedikit manis segar memberikan rasa kenyang lebih lama dan lagi kandungan vitamin B nya mampu menjaga tubuh tetap sehat.


Selama ini pengalaman penulis sebagai seorang diabetasi sudah mempraktekkan konsumsi 4 makanan itu dan alhamdulillah sangat jauh dalam mengurangi konsumsi obat. 

Tapi kalau pas 4 makanan itu sulit di dapatkan ya terpaksa baru minum obat. Minimal bisa mengurangi penggunaan obat kimia ya. 

Sedapat mungkin kurangi konsumsi obat kimia kalau ada yang alami.

Semoga semua pengunjung website ini sehat selalu dan dijauhkan dari penyakit. Aamiin.



KENALI MANFAAT ASAM PHOSPIT PADA PETROPHOS

A sam fosfit ( H3PO3 ) pada produk Petrophos memiliki kemampuan unik untuk merangsang pertumbuhan akar , meskipun perannya berbeda dengan pu...