Rabu, 18 Januari 2023

Fungisida Hayati Lebih Unggul dari Kimia Benarkah?





Dalam ilmu mikrobiologi tanaman, penyakit yang menyerang tanaman budidaya disebabkan oleh mikroba patogen (jamur, bakteri, virus, dll). Pada kondisi alaminya, patogen dapat dikendalikan sendiri oleh alam, artinya dari Tuhan telah menciptakan keseimbangan dengan bahan hayati pengendali yang lain atau yang dikenal dengan mikroba antagonis. Keseimbangan alam inilah yang perlu untuk kita manfaatkan.

"Eits...terus apa peranan bahan kimia selama ini?"



Bahan kimia pengendali, tipenya ada 2 (dua) macam yaitu yang alami dan sintetik. Sesuai asal katanya alami artinya dia dihasilkan dari murni makhluk hidup baik itu dengan perkembangbiakan atau dengan ekstraksi. Sedangkan kimia sintetik adalah bahan yang merupakan hasil dari rekayasa material atau molekulnya yang dirubah. 

Kelebihan material kimia selama ini adalah mereka sifat kontaknya lebih kuat akan tetapi memiliki kelemahan pada faktor munculnya toksisitas ke tanaman pokoknya. Tidak disalahkan juga kalau bahan kimia memiliki tingkat residu yang bahkan dapat bertahan lama dan tidak dapat terdegradasi. Akibatnya jelas akan memunculkan akumulasi di tanamannya dan makhluk hidup yang memakannya. "Bahaya dong?"

Tidak selalu, artinya jika digunakan secara bijaksana atau sesuai dengan dosis/ kadar aman masih bisa ditoleransi oleh tubuh. Tapi kalau lebih amannya ya sebaiknya memang dihindari apalagi yang sifatnya sistemik atau resisten (menimbulkan residu) di tanaman. 



Sebagai gantinya, bahan kimia pestisida yang selama ini cukup banyak digunakan oleh industri pertanian mendapatkan tantangan dari produk alami. 

"Efektifitasnya bagaimana?"

Tidak usah meragukan perihal efektifitas, kondisi bahan kimia selama ini menyebabkan OPT semakin resisten, dan hal ini juga berlaku buat penyakit tanaman. Yang dapat dilakukan petani selama ini dengan meningkatkan dosis atau dengan menambah interval aplikasi. Sampai kapok petani bisa mencampur 4-5 jenis racun petisida kimia dan bisa sampai 0-1 interval pemakaiannya. Spray sehari libur sehari...pusing mikir tenaga dan biaya serta kemungkinan besarnya paparan oleh racun itu ke petaninya. Bahkan di daerah-daerah sentra hortikultura tinggi menyebabkan petaninya sendiri malah tidak berkenan mengkonsumsi makanan hasil tanamannya sendiri. Karena mereka tau apa saja yang diaplikasikan ke tanamannya.

Berbeda halnya ketika di lingkungan budidaya organik yang menjamin minus penggunaan material kimia akan memudahkan mengkonsumsi hasil panennya secara segar. Penampakan sayuran dan buah akan lebih segar dan tahan lama dan akan lebih aet dalam penyimpanan tanpa bahan pengawet. 

Siapa yang pernah memakan sayuran dan buah impor?

Boleh dirasakan bedanya antara hasil budidaya kimia dan pengawet dengan budidaya murni organik di desa-desa alami yang masih mengandalkan organik dalam budiaya pertaniannya.

Yang jelas budidaya dengan sistem organik alami akan lebih segar, lebih nikmat, lebih renyah, lebih pulen, tidak mudah busuk dan tahan lama di penyimpanan.

Sebagai produk alami hayati, fungisida Trichosida merupakan andalan baru. 

"Kenapa demikian?"

Trichosida memiliki kandungan 3 (tiga) bahan aktif. Selama ini mikroba unggul yang banyak digunakan sifatnya tunggal, tetapi pada produk Trichosida kandungannya menjadi satu saling sinergi dan memperkuat. 

1. Bacillus sp

2. Trichoderma sp

3. Gliocladium

Beberapa uji coba membuktikan bahwa dengan menggunakan Trichosida selain mampu mencegah pertumbuhan mikroba patogen berbahaya pada tanaman, trichosida juga ampuh untuk melakukan pengendalian. Tentunya disesuaikan dengan derajat keparahan serangannya. Pada penggunaan 5-10 gram per pokok tanaman yang diaplikasikan langsung dengan sistem kocoran dapat ditingkatkan menjadi 25-30 gram bahkan 50-100 gram per pokok tanaman melihat kondisi jenis komoditi, usia tanaman dan derajat keparahannya.

Yang perlu diingat lagi adalah, penggunaan trichosida dapat di aplikasikan bersamaan dengan masa pengolahan lahan atau dengan pemakaian pupuk. Praktis dengan di tabur, dispray atau di kocor.


Berapa lama hasilnya akan terlihat?

Penggunaan trichosida untuk pencegahan akan nampak dari pertumbuhan tunas dan tangkai muda pada tanaman budidaya. Kalau untuk pengendalian biasanya butuh waktu 14-28 hari untuk mikroba trichosida aktif mengendalikan mikroba patogen.

Kemampuan perkembangbiakan 3 (tiga) mikroba unggul anti patogen ini tergolong sangat cepat, dalam hitungan 2 minggu koloninya sudah mampu membungkus mikroba patogen semisal beberapa mikroba penyakit penyebab tular tanah antara lain: 

Fusarium OxsporumRalstonia Solanacearum, Rizoctonia Solani,dan Phytopthora Infestans.  

Untuk itu bagi petani budidaya Kentang, Bawang merah, Cabai, Tomat, dll wajib tahu biofungisida ini. Pencegahan itu penting dan jika sudah terlanjur terkena patogen maka jangan menyerah karena ada trichosida.

Trichosida = 3 mikroba indigenous aktif asli Indonesia yang sangat bermanfaat untuk tanaman anda.

Pilihan bertani dengan organik, lebih sehat, lebih mantab, lebih bermanfaat.


Bangga jadi Petani

Salam Merdesa, 

Petani Sejahtera Bangsa Berjaya


Baca Selanjutnya: Penggunaan Drone Pertanian

Jumat, 30 Desember 2022

Aplikasi Drone Pendukung Pertanian Pendukung #Smartfarming



Gbr. Smart Precision Farming With Drone and Nano Urea



Gbr. Aplikasi Penyemprotan di Lahan Padi Menggunakan Drone 

Dengan perkembangan teknologi sekarang sudah dapat kita jumpai alat/ mesin pertanian yang sangat bermanfaat untuk kegiatan budidaya. Tercatat ada planter  (mesin tanam) yang dapat disesuaikan dan dapat membantu proses penanaman lebih cepat. Pekerjaan tanam yang selama ini membutuhkan waktu sehari untuk luasan 1 (satu) hektar, cukup diselesaikan dalam hitungan jam saja. 

Selain planter, kita juga mengenal mesin harvester (pemanen). Mungkin kegiatan yang sangat membuat petani stres adalah ketika buruh tanam atau buruh panen tidak tersedia saat dibutuhkan, tetapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi karena mesin planter dan mesin harvester memberikan kemudahan buat petani pemilik lahan Untuk mengerjakan penanaman dan pemanenan dengan lebih cepat dan praktis.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pesawat drone yang selama ini kita ketahui hanya di dimanfaatkan sebagai alat pemetaan/ penginderaan lokasi/ pengambilan gambar dari udara, sekarang telah mampu dimanfaatkan sebagai senjata perang dan sebagai pendukung pertanian. 

"Kali ini kita tidak akan membahas tentang drone perang, tetapi fokus di drone pertanian ya, hehehe..."

Keterbatasan jumlah tenaga kerja di dunia pertanian, diiringi dengan semakin berkurangnya minat generasi muda yang enggan berkecimpung di dunia ini menyebabkan para pengelola lahan pertanian semakin sulit dengan pemenuhan tenaga kerja. Mulai pemenuhan kebutuhan tenaga untuk tanam, pemupukan hingga penyemprotan hama, selama ini kegiatan tersebut sangat tergantung sekali dengan tenaga buruh tani atau tenaga kerja pertanian. 






Bagai  mana dengan kegiatan pengendalian hama dan pemupukannya?

Teknologi drone yang selama ini dianggap hanya bermanfaat untuk penginderaan lahan ternyata dapat digunakan juga sebagai alat bantu pelaksanaan penebaran benih langsung, pemupukan granul, penyemprotan pupuk cair dan ZPK juga bisa untuk pengendalian hama dan penyakit.

                 Gbr. Aplikasi Penyemprotan di Lahan Tebu Menggunakan Drone


Kenali macam-macam drone pertanian:

1. Drone penebar benih

Pada prinsipnya, drone penebar benih memiliki kemampuan terbang baik dengan menggunakan 4-6 baling-baling. Penggunaan baterai sebagai suplai  daya mampu menjaga drone mengudara 10-15 menit tergantung kapasitas dayanya. Pada drone jenis ini benih padi/ benih lain yang akan disebar ditempatkan pada wadah penampung di bawah drone. Kemampuan mengeluarkan benih dengan posisi drop/ dijatuhkan melalui lubang kecil dengan hembusan udara menjamin penyebaran benih jatuh di lahan lebih merata. Drone model ini memungkinkan pembudidaya meletakkan benih dilokasi yang tidak memungkinkan jika dijangkau lewat darat.

Berbeda dengan budidaya melaluui persemaian pindah tanam, penebaran benih sistem tabur benih langsung selama ini bisa dilakukan dengan menebar manual pakai tangan atau dengan paralon berlubang yang ditarik sejajar horisontal.

Cara ini masih mungkin jika lahan terbatas dan memungkinkan orang untuk melaluinya. Bagaimana dengan karakter lahan berlumpur dalam yang susah dilalui, tentunya akan merepotkan dalam penebaran benihnya.

Dengan drone yang mampu menaburkan benih sangat membantu titik-titik yang tidak terjangkau lewat darat.


2. Drone penebar pupuk 

Prinsip drone penebar pupuk juga memiliki kemampuan dan spesifikasi yang hampir sama dengan drone penebar benih. Metode pengeluaran benih maupun pupuk granular juga modelnya hampir sama hanya yang membedakan adalah mulut penampang outputnya. Setelan tekanan dan model sebarannya juga ada settingannya agar material yang disebarkan dapat di distribusikan merata ke hamparan tanah.

Drone mampu di atur sehingga dapat mengeluarkan pupuk dengan jumlah tertentu. Drone jenis ini fokus pada penyebaran merata artinya pupuk bentuk padatan akan disebarkan dengan sistem jatuhan langsung dengan gravitasi atau dengan tekanan angin kompresor.

peletakan pupuk akan lebih merata dan dapat menjangkau titik yang sulit jika dijangkau melalui darat.


3. Drone spray

Berbeda dengan drone yang mendistribusikan butiran/ granulasi, drone spray diaplikasikan untuk cairan atau material yang bersifat disemprotkan. Penggunaan nozzle yang berbeda menyesuaikan kebutuhan titik jatuhan dan besaran ukuran partikel larutan cairannya. 

Jenis cairan yang akan disemprotkan juga menentukan dalam pemilihan nozzlenya. Penggunaan perekat dan pembasah pada beberapa material bahan perlu ditambahkan sebagai upaya untuk memperkuat kemampuan pengendalian/ manfaat dari jenis bahan yang diaplikasikan. 

Dalam penggunaan drone spray, penggunaan pestisida tetap wajib memperhatikan kaidah kemananan dan dosis takaran yang terbukti efektifitasnya. Pada kondisi aplikasi manual dibandingkan dengan mesin drone terdapat perbedaan dari sisi dosis/ takaran bahan dengan volume semprotnya. Kecenderungan volume semprot yang bisa hanya 5-10% dari material semprot manual menyebabkan takaran dosis perliternya dapat meningkat kepekatannya, tentunya ini perlu menjadi pertimbangan apakah akan berdampak pada toksisitas baik pada tanaman pokoknya atau pada lingkungan di sekitarnya.

Aplikasi drone spray mampu menjangkau luasan yang lebih besar jika dibandingkan dengan aplikasi spray manual. 

Pada penggunaannya, drone spray dapat digunakan pada fungsi untuk penanggulangan hama dan penyakit, pembasmian gulma dan aplikasi Zat Pengatur Tumbuh semisal Pemacu Tumbuh maupun Pemacu Kemasakan.



Salam Merdesa, 

Petani Sejahtera Bangsa Berjaya


Baca Selanjutnya: Mikroba Petrofish Untuk Pertanian

KENALI MANFAAT ASAM PHOSPIT PADA PETROPHOS

A sam fosfit ( H3PO3 ) pada produk Petrophos memiliki kemampuan unik untuk merangsang pertumbuhan akar , meskipun perannya berbeda dengan pu...