Selasa, 28 Maret 2023

Bukti Keberhasilan Mengatasi Tanah Masam Pakai Saptabio, Saptabio, Saptabio



Kendala yang dihadapi oleh petani pada musim tanam ke-2 selain dengan bermunculannya serangan hama wereng dan penggerek batang adalah muncul asem-asemen atau yang sering disebut petani lahan "ambles/ amblas". 

Kondisi tanah masam pH di bawah 7 (tujuh) memperparah kondisi pertumbuhan tanaman. Padi yang berada pada kondisi masam akan mengalami pembusukan akar dan pada  akhirya akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat lalu menjadi mati. Sering kita jumpai di lahan sawah adalah tanaman akan nampak menguning dan lama2 akan melayu. 



Kalau dilakukan pencabutan akan dijumpai terjadi pembusukan pada bagian akarnya. Hal ini diperparah dengan ketidaktahuan petani yang segera menambahkan pupuk dengan harapan tanaman akan pulih akan tetapi justru tanaman tidak semakin baik tapi semakin ambles mempercepat kematiannya. 


Sebenarnya apa yang terjadi?

Pada kondisi lahan yang lebih sering tergenang dan dengan pengolahan lahan minimal akan sangat rentan terjadinya asem2an. Kondisi pelapukan sisa jerami pada musim tanam sebelumnya pada musim tanam ke-1 yang kurang baik (sebagai akibat petani langsung melakukan pengolahan kembali paska pemanenan) disinyalir menjadi salah satu sebab dominan kejadian ini. 



Sebagai anjuran memang sebaiknya petani melakukan pengolahan lahan sempurna dengan membajak kembali lahan dan membenamkan sisa jerami ke tanah serta memberikan cukup waktu untuk serasah sisa jerami terdekomposisi sempurna. Cara pengembalian jerami ke lahan juga dapat dibarengi dengan pemberian dekomposer untuk mempercepat tingkat pelapukan sisa material organik yang terdahulu. Pemberian pupuk dekomposer semisal Petrogladiator atau penambahan kaptan untuk mereduksi sifat kemasaman tanah dinilai cukup berhasil mengatasi kendalam tanah masam ini.

Pada budidaya tanaman sekarang ini sudah dikenal pupuk hayati yang memiliki multifungsi. Selain berfungsi untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik, pupuk ini dapat merombak material pupuk menjadi lebih tersedia agar lebih mudah diserap tanaman. Kandungan metabolit yang dihasilkan oleh mikroba yang  terkandung di dalamnya mampu berfungsi sebagai ZPT dan bahkan ada yang sudah  memiliki kemampuan anti patogen. 



Di antara jenis pupuk hayati yang terbaru saat ini dengan kandungan 7 mikroba Indogenous Indonesia yang tentunya sudah terbukti tahan dengan iklim negara di khatulistiwa telah mampu dihasilkan oleh salahsatu cucu perusahaan usaha BUMN Pupuk Indonesia yaitu Petrosida Gresik. 

Dikenal dengan nama "Saptabio" yang merupakan simbol (7) tujuh mikroba dan hayati/bio, produk ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil budidaya tanaman pada bermacam komoditi. Fungsi pupuk hayati ini selain pelarut organik yang handal (dekomposer), penambat unsur Nitrogen, pelarut Kalium dan Phospat, Unsur Fitohormon/ ZPT yang menjadi booster tanaman juga memiliki kemampuan anti patogen. 



Fungsi dari pupuk ini dapat dibuktikan oleh petani pembudidaya yang telah menggunakannya. Dari pemaparan dan pengamatan langsung di lapangan, pupuk Saptabio dapat mengoptimalkan penyerapan pupuk. Jika penggunaan pupuk urea, phospat dan kalium yang selama ini disinyalir banyak terbuang atau tidak terserap oleh tanaman dapat di larutkan menjadi mudah terserap dan termanfaatkan secara optimal. Dengan kata lain maka penggunaan pupuk dapat lebih efisien dan dapat dikurangi sesuai kondisi tanaman. 

Hal lain yang nampak adalah dari fisik tanaman yang lebih segar. Pada kebanyakan tanaman memasuki panen kenampakan tanaman akan mengering tetapi berbeda halnya dengan tanaman yang menggunakan pupuk ini akan nampak lebih segar dan hijau. Selain warna, kenampakan batang, lebar daun dan kemunculan bunga dan bakal buah lebih serempak, lebih banyak dan lebih berisi. Tidak seperti tanaman yang murni hanya menggunakan pupuk kimia, penggunaan pupuk hayati selain mereduksi pemakaian  pupuk kimia karena peningkatan keoptimalan penyerapan hara, hasil tanaman, dantingkat ketahanan dipenyimpanannya lebih baik. tidak mudah pecah dan busuk.



Fungsi fitohormon yang dihasilkan oleh komponen mikroba kandungannya menampilkan fisik tanaman dan hasil buah, bulir atau biji yang lebih segar, lebih besar dan lebih mengkilat. Hal yang juga disadari oleh para pengguna pupuk ini adalah minimnya serangan penyakit khususnya penyakit yang menyebar melalui tanah. Hal ini disebabkan karena keberadaan mikroba perombak selulosa yang memiliki kemampuan anti patogen streptomyces sp dan trichoderma sebagai salahsatu mikroba utama yang terkandung dalam Saptabio.

Dari hasil ubinan penggunaan Saptabio pada budidaya padi di lahan Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Gresik di peroleh 7,36 kilo dan apabila dikalikan 1600 maka akan diperoleh tonase 11,8 Ton. Setelah dikali faktor koreksi 15 % maka diperoleh hasil sekitar 10,05 Ton. Hasil yang lumayan besar.


Dari lahan yang terkena asem2en ternyata dapat pulih dan menghasilkan panenan yang tinggi.


Bangga Jadi Petani, 

Bangga Pakai Produk Anak Bangsa

Gunakan Saptabio

Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya


Baca lainnya:

Mengenal Nano Urea Pupuk Berteknologi

Senin, 20 Maret 2023

Program Focus Group Discussion (FGD) di Perusahaan





Mungkin pembaca sudah sering menyaksikan perbincangan di media televisi antara beberapa pakar dan narasumber dengan mengangkat tema teraktual. Tidak jarang perbincangan itu menjadi debat sengit yang berakhir dengan gebrakan meja dan hingga umpatan.
Eits...tapi sebenarnya perlu gak sih model seperti ini?
Dalam budaya kita sebenarnya penyelesaian masalah dengan dibicarakan secara musyawarah adalah hal yang telah menjadi budaya di masyarakat kita dan inilah yang menjadi cikal bakal sebutan FGD ini. Musyawarah ya FGD dalam bahasa modern.

Pembahasan masalah secara berkelompok memang dianggap perlu untuk mencari ide dan gagasan atau saran dari orang lain untuk penyelesaian masalah. Kalau bahasa lainnya diskusi atau FGD, Focus Group Discussion...Bahasa lainnya pembahasan masalah secara kelompok.

Dalam iklim perusahaan, banyak ditemui permasalahan di setiap unit. Masing-masing atasan atau pimpinan memiliki caranya masing-masing dalam penyelesaiannya. Jika di amati, pemimpin yang berpengalaman akan lebih banyak memberikan intruksi langsung, sedangkan pemimpin yang lebih mengedepankan diskusi akan melibatkan seluruh komponen untuk memberikan saran. Mana yang lebih unggul?

Dalam kondisi perubahan yang berlangsung seperti ini, pengalaman memang sesuatu yang penting akan tetapi dengan dinamika perubahan yang semakin cepat, konsep penyelesaian masalah dapat saja berubah dari pakem standartnya dan inilah yang membutuhkan diskusi penyelesaian bersama. 


Kalau dibuat perbandingan, karena lintas generasi dalam perusahaan sudah  sedemikian kompleknya membutuhkan aturan yang lebih fleksibel.
Masalah tidak sekedar diselesaikan dengan arahan topdown saja tetapi bottom up juga menjadi sesuatu keharusan sebagai pertimbangan. Kombinasi keduanya adalah yang terbaik. Di sinilah sebutan FGD itu dianggap penting untuk mencari permasalahan dan dibuat sebagai jembatan antar generasi. Sudah tidak ada lagi golongan lama atau golongan tua senior yang memaksakan kehendak kepada golongan lain yang lebih muda atau sebaliknya. 

Jika diamati, FGD dapat diselenggarakan pada masing-masing unit dan dapat pula berkolaborasi lintas unit. Bagaimana persyaratannya?

1. Perlunya Moderator

Dalam FGD, moderator dibutuhkan sebagai penengah. Kalau ditanya siapa yang berhak menjadi moderator tentunya harus disepakati apakah harus ditetapkan mutlak atau dapat dibuat bergantian. Moderator itu sifatnya hanya sebagai fasilitator dan tentunya tidak memutuskan. Semua dapat menjadi moderator asalkan tidak diragukan netralitasnya.

2. Dilaksanakan Melibatkan Unit Terkait

Dalam penetapan FGD tentunya  akan melibatkan pihak-pihak yang diharapkan kontribusinya baik sebagai pemegang kebijakan, pelaksana maupun pihak penilai. Semua dilibatkan karena tujuan dari kegiatan ini untuk mencari jawaban dari permasalahan dan kesepakatan pelaksanaan dan penyelesaiannya wajib dihormati dan disanggupi oleh semuanya. 

3. Menetapkan Jadwal dan Durasi

Dalam pelaksanaan FGD tentunya akan disepakati berapa lama setiap sesi ini dilaksanakan dan ditetapkan pula hasilnya akan dilaksanakan kapan dan bersifat temporer atau tetap. Hasil FGD dapat pula ditinjau kembali jika perlu dilakukan perubahan. Pelaksanaan dibuat berdasarkan jadwal dan dibuat berdasarkan tema yang disepakati serta masa berlakunya. Ini yang juga perlu di sepakati.

4. Penyusunan Notulen dan Keputusan Terlegitimasi

Setiap kali hasil keputusan dalam FGD wajib dinotulenkan dan wajib di pahami serta dilaksanakan oleh seluruh unit terlibat dengan sebaik baiknya. Kalau dibutuhkan sebaiknya hasil keputusan berdasarkan notulen dan di sahkan sebagai kesepakatan atau aturan bersama. Bahasa lainnya butuh pengesahan manajemen atau pihak yang memiliki otoritas.


5. Membutuhkan Tempat Pelaksanaan

Dalam melaksanakan FGD tentunya dapat dilaksanakan di mana saja baik di ruang rapat inernal ataupun di alokasikan di ruang rapat eksternal yang penting adalah pelaksanaannya dapat kondusif dan terjaga netralitasnya. Hasil keputusan bersama wajib dipatuhi tanpa ada paksaan, intimidasi dan penggiringan opini atau pendapat secara sepihak.

Apakah FGD hanya sebatas untuk penyelesaian masalah? Eits, nanti dulu...FGD ternyata bisa juga untuk melaksanakan penilaian kandidat. Kalau misalkan dibuat FGD kita bisa tau performance dari masing-masing kandidat dan kita bisa membuat grade tingkatan dari kualitas masing-masing. 

Bagaimana kawan, berminat untuk melaksanakan FGD di lingkungan kita?

Semangat maju membawa perubahan lebih baik. 

Berubah..
Berubah...
Berubah lebih baik....



Baca Selanjutnya: Sharing Knowledge Perusahaan
 

KENALI MANFAAT ASAM PHOSPIT PADA PETROPHOS

A sam fosfit ( H3PO3 ) pada produk Petrophos memiliki kemampuan unik untuk merangsang pertumbuhan akar , meskipun perannya berbeda dengan pu...